NEWS

Pagelaran dan Jamasan Pusaka 2026, Yayasan Sabuk Inten Nusantara Bersama PRAMONO dan Karang Taruna Desa Nongkodono Lestarikan Warisan Budaya Leluhur

Kegiatan yang diprakarsai Yayasan Sabuk Inten Nusantara, PRAMONO, dan Karang Taruna Desa Nongkodono menghadirkan edukasi budaya, ritual tradisi, serta pelestarian pusaka sebagai warisan leluhur.

Ponorogo - Wartakotakita.comSemangat melestarikan warisan budaya leluhur terasa begitu kuat dalam kegiatan Pagelaran dan Jamasan Pusaka yang diselenggarakan oleh Yayasan Sabuk Inten Nusantara, PRAMONO (Paguyuban Pangrekso Mothik Ponorogo), dan Karang Taruna Desa Nongkodono sebagai penutup rangkaian peringatan Bulan Suro, bertempat di Balai Desa Nongkodono, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Jumat malam (10/7/2026).

David (baju coklat) wisatawan dari Perancis saat foto bersama dengan Panitia Pagelaran dan Jamasan Pusaka 2026

Kegiatan ini juga mendapat perhatian dari wisatawan mancanegara asal Prancis, David, serta wisatawan domestik asal Bali, Kadek, yang hadir secara langsung untuk menyaksikan seluruh rangkaian acara. Keduanya mengaku tertarik mempelajari budaya otentik masyarakat Jawa, khususnya budaya adiluhung Ponorogo, mulai dari tradisi pusaka, nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam Jamasan dan Sidikara Pusaka, hingga kesenian Reyog Tempo Dulu. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa kekayaan budaya Ponorogo tidak hanya menarik perhatian masyarakat lokal, tetapi juga mampu memikat wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, spiritual, dan edukasi.

Sejak pagi, masyarakat memadati Balai Desa Nongkodono untuk mengikuti pagelaran pusaka yang menampilkan berbagai pusaka peninggalan leluhur. Memasuki siang hari, suasana semakin semarak dengan penampilan Reyog Tempo Dulu yang menghidupkan kembali nuansa kesenian Reyog klasik dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

Kemudian pada malam hari sebelum prosesi Jamasan dan Sidikara Pusaka digelar, panitia mengadakan sarasehan budaya yang menjadi ruang edukasi sekaligus pendalaman nilai-nilai warisan leluhur. Sarasehan pertama mengangkat tema Mothik yang disampaikan oleh Gus Viki selaku Pembina PRAMONO (Paguyuban Pangrekso Mothik Ponorogo). Dalam paparannya, ia mengajak masyarakat memahami mothik sebagai bagian dari kearifan lokal yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus.

Sarasehan kemudian dilanjutkan dengan materi "Tosan Aji Pusaka Dasar Pepetan" yang disampaikan oleh Gus Eka Harnawa selaku Dewan Pembina Yayasan Sabuk Inten Nusantara dan juga salah satu Pendiri Yayasan Sabuk Inten Nusantara. Materi tersebut mengulas nilai sejarah, filosofi, etika, serta pemahaman dasar mengenai tosan aji sebagai warisan budaya yang harus dirawat dan dilestarikan secara benar.

Seluruh rangkaian sarasehan dipandu oleh Wisnu H.P., Ketua Dewan Kesenian Ponorogo, yang memoderatori jalannya diskusi sehingga berlangsung interaktif dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta.

Kebersamaan dalam ritual kenduri menjadi simbol rasa syukur, persaudaraan, dan penghormatan kepada warisan budaya leluhur.

Usai sarasehan, kegiatan dilanjutkan dengan ritual Kenduri yang dipimpin oleh Romo Edi Purnomo selaku Dewan Pinisepuh Yayasan Sabuk Inten Nusantara. Kenduri menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus ungkapan penghormatan terhadap jasa para leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi sekarang.

Rangkaian tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Romo Untung Setiadi, Ketua Yayasan Sabuk Inten Nusantara, memohon keselamatan, keberkahan, serta kelestarian budaya bangsa agar tetap terjaga sepanjang masa.

Gus Ahmad Kusumo pada saat melakukan Ritual Khusus (Ritus) Jamasan Pusaka

Puncak acara berlangsung pada tengah malam hari melalui prosesi Jamasan dan Sidikara Pusaka yang dipimpin oleh Gus Ahmad Kusumo selaku Dewan Pembina Yayasan Sabuk Inten Nusantara sekaligus salah satu pendiri Yayasan Sabuk Inten Nusantara bersama seluruh anggota Yayasan Sabuk Inten Nusantara. Prosesi berlangsung dengan penuh kekhidmatan sebagai simbol penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus komitmen untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya bangsa.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Anggota DPRD Ponorogo H. Agung Priyanto, jajaran Dewan Kesenian Ponorogo, Camat Kauman, Kepala Desa se-Kecamatan Kauman, tokoh masyarakat, budayawan, serta ratusan warga yang memadati Balai Desa Nongkodono hingga acara berakhir.

Ketua Yayasan Sabuk Inten Nusantara Romo Untung Setiadi pada saat diwawancarai oleh tim Redaksi wartakotakita.com

Dalam wawancara dengan awak media, Ketua Yayasan Sabuk Inten Nusantara, Romo Untung Setiadi, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk nyata pelestarian budaya yang harus terus diwariskan kepada generasi muda.

"Jamasan dan Sidikara Pusaka merupakan bagian dari ikhtiar kami menjaga warisan budaya leluhur. Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar semakin mencintai budaya, memahami sejarahnya, serta ikut bertanggung jawab melestarikannya," ujar Romo Untung Setiadi.

Sementara itu, Gus Ahmad Kusumo, yang memimpin prosesi Jamasan dan Sidikara Pusaka, menjelaskan bahwa kedua prosesi tersebut memiliki makna yang berbeda namun saling melengkapi.

"Jamasan Pusaka adalah tradisi membersihkan dan merawat pusaka sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur. Sementara Sidikara Pusaka merupakan prosesi penyucian pusaka yang dilakukan sebagai ikhtiar menjaga kesucian nilai, kehormatan, dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Yang kami lestarikan bukan semata bendanya, melainkan nilai-nilai luhur, budi pekerti, sejarah, serta jati diri budaya yang diwariskan oleh para leluhur kepada generasi penerus," jelas Gus Ahmad Kusumo.

Perwakilan PRAMONO (Paguyuban Pangrekso Mothik Ponorogo) menyampaikan bahwa keikutsertaan paguyuban dalam kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap pelestarian pusaka, sejarah, serta nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat Ponorogo.

Kepala Desa Nongkodono Bapak Jemadi saat memberikan keterangan kepada awak media

Kepala Desa Nongkodono, Bapak Jemadi mengapresiasi kolaborasi antara Yayasan Sabuk Inten Nusantara, PRAMONO, Karang Taruna, pemerintah desa, dan masyarakat yang telah bergotong royong menyukseskan kegiatan tersebut.

"Kami berharap kegiatan ini terus menjadi agenda tahunan karena tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga mempererat persaudaraan dan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur," ungkap Kepala Desa.

Rivaldi Mahardika Ketua Panitia Pagelaran dan Jamasan Pusaka 2026 di Nongkodono

Sementara itu, Ketua Panitia Rivaldi Mahardika menyampaikan rasa syukur atas suksesnya seluruh rangkaian kegiatan.

"Alhamdulillah seluruh rangkaian acara sejak pagi hingga malam berjalan lancar berkat dukungan semua pihak. Terima kasih kepada seluruh panitia, pemerintah desa, para tamu undangan, komunitas budaya, dan masyarakat yang telah bersama-sama menyukseskan kegiatan ini. Sebenarnya acara ini fokusnya ke edukasi bagaimana kita mensosialisasikan tentang nilai budaya leluhur seperti Reyog, Mothik, Keris Tosan Aji dan lain sebagainya. Semoga Jamasan dan Sidikara Pusaka terus menjadi agenda budaya yang semakin besar serta mampu memperkuat identitas budaya Ponorogo," tuturnya.

Melalui kolaborasi antara Yayasan Sabuk Inten Nusantara, PRAMONO (Paguyuban Pangrekso Mothik Ponorogo), Karang Taruna Desa Nongkodono, Pemerintah Desa, dan masyarakat, kegiatan Jamasan dan Sidikara Pusaka diharapkan terus menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus media edukasi budaya bagi generasi penerus agar nilai-nilai luhur budaya Ponorogo tetap lestari sepanjang zaman.

Reporter : Fendi Nuryanto
Penulis : Tim Redaksi Wartakotakita.com


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image