Rembug Agung di Balong, Yayasan Sabuk Inten Nusantara Mantapkan Agenda Jamasan dan Kirab Pusaka Suro 2026
![]() |
| foto kanan baju putih : Eka Harnawa Dewan Pembina Yayasan Sabuk Inten Nusantara saat sampaikan agenda kegiatan |
Silaturahmi Budaya dan Spiritualitas Menjadi Fondasi Pelestarian Warisan Leluhur
Ponorogo - Wartakotakita.com - Semangat melestarikan budaya leluhur terus digaungkan oleh jajaran pengurus Yayasan Sabuk Inten Nusantara Ponorogo. Hal itu tampak dalam kegiatan Rembug Agung Jamasan dan Kirab Pusaka yang digelar di kediaman Eka Harnawa di Desa Karangan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu malam (20/6/2026).
Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan mewarnai pertemuan yang dihadiri para pengurus, pembina, serta sesepuh yayasan tersebut. Forum sarasehan itu menjadi ruang musyawarah sekaligus penguatan tali persaudaraan dalam bingkai budaya, spiritualitas, dan pelestarian nilai-nilai luhur Nusantara.
![]() |
| foto tengah baju hitam : Ahmad Marundi Dewan Pembina Yayasan Sabuk Inten Nusantara sedang memberi penjelasan tentang Jamasan dan Kirab Pusaka Yayasan Sabuk Inten Nusantara |
Pembina Yayasan Sabuk Inten Nusantara Ponorogo, Ahmad Marundi yang akrab disapa Gus Ahmad, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya pertemuan tersebut. Menurutnya, Rembuk Agung menjadi momentum penting untuk mempersiapkan penyelenggaraan Jamasan dan Kirab Pusaka yang direncanakan berlangsung pada Selasa, 30 Juni 2026, bertepatan dengan Bulan Suro.
"Rahayu, Rahayu, Rahayu. Alhamdulillah, pada malam hari ini kita bisa berkumpul dalam merajut tali silaturahmi dalam Rembuk Agung membahas terkait agenda kegiatan penyelenggaraan Jamasan dan Kirab Pusaka Yayasan Sabuk Inten Nusantara Ponorogo yang rencananya akan diselenggarakan pada hari Selasa, tanggal 30 Juni 2026 dalam Bulan Suro ini," tutur Gus Ahmad.
Ia menjelaskan, prosesi Kirab Pusaka dan Jamasan merupakan bagian dari tradisi tahunan di bulan Suro yang diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan terhadap Tahun Baru Islam sekaligus pelestarian budaya Jawa.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan tersebut akan diawali dengan arak-arakan pusaka yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi jamasan atau pencucian pusaka menggunakan air yang berasal dari tujuh sumber mata air.
Sementara itu, Pembina Yayasan Sabuk Inten Nusantara Ponorogo, Eka Harnawa Widyaswara, menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan yang dilaksanakan yayasan merupakan implementasi dari visi dan misi yang telah ditetapkan.
Menurutnya, visi besar yayasan adalah mewujudkan kebudayaan Nusantara yang lestari, berdaulat, dan menyejahterakan melalui keseimbangan jagad gedhe dan jagad cilik, sebagai sabuk pengikat keberagaman bangsa menuju peradaban yang luhur dan berkelanjutan.
Visi tersebut, kata Eka, menunjukkan bahwa kebudayaan tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lampau, melainkan juga menjadi kekuatan masa depan yang mampu menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam serta kehidupan sosial dalam bingkai kebangsaan.
Lebih lanjut dijelaskan, terdapat lima misi utama yang menjadi landasan gerak Yayasan Sabuk Inten Nusantara Ponorogo, yakni:
- Menyelaraskan kebudayaan dan ekologi;
- Menjaga keseimbangan empat unsur kehidupan;
- Menjadi poros kolaborasi kebudayaan;
- Mengembangkan pendidikan dan literasi budaya;
- Mengikat keberagaman dalam jaringan Nusantara dan dunia.
Dalam forum sarasehan tersebut juga ditegaskan bahwa kelima misi tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Setiap program yang dijalankan yayasan diharapkan mampu mencerminkan keseluruhan misi secara utuh.
Eka berharap, tradisi Jamasan dan Kirab Pusaka dapat terus lestari serta menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai warisan budaya bangsa.
"Harapan ke depan, semoga tradisi Jamasan dan Kirab Pusaka Yayasan Sabuk Inten Nusantara Ponorogo terus lestari, semakin edukatif bagi generasi muda, dan menjadi daya tarik wisata budaya yang mendunia. Sebagai warisan leluhur, prosesi ini diharapkan tetap sakral, mampu merawat identitas daerah, serta menumbuhkan nilai kebersamaan masyarakat," ungkapnya.
![]() |
| foto kiri : Romo Edi Purnomo Dewan Pinisepuh Yayasan Sabuk Inten Nusantara sedang memberikan wejangan dan ular-ular. |
Menjelang berakhirnya acara, suasana menjadi semakin khidmat ketika Romo Edi Purnomo, selaku Dewan Pinisepuh Yayasan Sabuk Inten Nusantara, memberikan wejangan mengenai pentingnya adab serta budi pekerti luhur sebagai warisan budaya Jawa yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus.
Rangkaian kegiatan Rembuk Agung tersebut kemudian ditutup dengan lantunan doa Jawa yang dipimpin langsung oleh Romo Edi Purnomo, menandai tekad bersama untuk menjaga kelestarian budaya dan memperkuat persaudaraan dalam semangat "Setya Ngaji Budaya."
Reporter : Fendi Nuryanto
Penulis/Editor : Tim Redaksi wartakotakita.com


