Haul Ke-18 Eyang Kasni Gunapati, Spirit Warok Tulen yang Terus Menyatukan Seni Reyog Ponorogo
Ribuan masyarakat, seniman, dan pelaku budaya mengenang jasa Mbah Wo Kucing melalui tirakat, kirab, ziarah makam, hingga pentas spektakuler Reyog yang menampilkan puluhan Dadak Merak.
Ponorogo - Wartakotakita.com - Suasana penuh khidmat sekaligus semarak mewarnai Haul Ke-18 Eyang Kasni Gunapati (Mbah Wo Kucing) yang digelar selama dua hari, 4–5 Juli 2026, di Desa Kauman, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Kegiatan ini bukan sekadar tradisi tahunan mengenang tokoh besar Reyog Ponorogo, tetapi juga menjadi momentum mempererat persaudaraan seluruh insan seni tanpa memandang status maupun golongan.
![]() |
| Plt. Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, bersama masyarakat mengikuti Kirab Haul ke-18 Eyang Kasni Gunapati. Melestarikan budaya, merawat tradisi. |
Memasuki 5 Juli 2026, kegiatan dilanjutkan dengan kirab budaya dan ziarah ke makam Eyang Kasni Gunapati. Prosesi berlangsung khidmat dan diikuti ratusan peserta dari berbagai paguyuban Reyog. Kehadiran Plt. Bupati Ponorogo, Bunda Lisdyarita, menambah makna acara sebagai bentuk penghormatan pemerintah daerah kepada tokoh pelestari budaya yang telah berjasa besar bagi Ponorogo.
![]() |
| Bapak Edi Purnomo ketua panitia Haul ke 18 Eyang Kasni Gunapati pada saat diwawancarai redaksi wartakotakita.com |
Ketua Panitia, Edi Purnomo, dalam wawancaranya menyampaikan bahwa penyelenggaraan haul bukan hanya untuk mengenang sosok Mbah Wo Kucing, tetapi juga meneruskan nilai-nilai luhur yang beliau wariskan.
"Beliau mengajarkan bahwa Reyog adalah milik bersama. Tidak boleh ada perbedaan status, golongan, maupun latar belakang. Semua harus guyub rukun demi menjaga kelestarian seni Reyog Ponorogo,"ungkap Edi Purnomo.
Menurutnya, semangat kebersamaan yang diwariskan Mbah Wo Kucing menjadi landasan utama terselenggaranya haul setiap tahun, sehingga seluruh pelaku seni dapat terus menjaga persatuan dan saling menghormati.
Puncak peringatan berlangsung pada malam hari melalui Pentas Reyog yang dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi.
Malam itu menjadi pertunjukan yang memukau. Sebanyak 50 Dadak Merak, 12 Jathil, dan 3 Bujang Ganong tampil bergantian menyuguhkan atraksi terbaik mereka. Riuh tepuk tangan masyarakat menjadi bukti bahwa semangat yang pernah diperjuangkan Mbah Wo Kucing masih hidup dan terus berkembang di tengah generasi penerus.
Warok Tulen yang Menghidupkan Kembali Reyog
Mbah Wo Kucing, yang memiliki nama asli Kasni Gunopati, lahir di Desa Kauman, Ponorogo, 30 Juni 1934, dari pasangan Martorejo dan Sutilah. Sejak muda, beliau lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngangsu kawruh, semedi, serta mengabdi kepada para sesepuh yang memiliki ilmu kebatinan. Pendidikan formalnya hanya sampai Sekolah Rakyat (SR), namun perjalanan spiritual dan pengabdiannya menjadikannya sosok yang disegani.
Sejarah mencatat, pasca peristiwa G30S/PKI, kesenian Reyog sempat mengalami masa sulit. Banyak kelompok seni enggan tampil karena adanya stigma negatif terhadap kesenian tersebut.
Di tengah situasi itu, Mbah Wo Kucing menjadi tokoh pertama yang berani kembali mementaskan Reyog di depan masyarakat. Keberaniannya menjadi titik balik kebangkitan Reyog Ponorogo, menginspirasi kelompok-kelompok lain untuk kembali berkesenian.
Pada tahun 1966, beliau mendirikan Grup Reyog Pujangga Anom Ponorogo, yang kemudian berkembang menjadi salah satu kelompok Reyog yang disegani.
Dedikasinya membuahkan prestasi ketika pada 1987, Pujangga Anom berhasil meraih Juara I Festival Reyog Tingkat Jawa Timur, serta memperoleh penghargaan dari Kodam V/Brawijaya dan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur.
Selain dikenal sebagai pimpinan paguyuban Reyog, beliau juga mengemban amanah sebagai Kamituwo Dusun Merbot, Desa Kauman, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo.
Bagi masyarakat Ponorogo, Mbah Wo Kucing dikenal sebagai salah satu warok tulen terakhir. Sosoknya sederhana, bertubuh kurus dan tinggi, berjanggut putih, berbicara lembut, penuh kerendahan hati, namun setiap nasihatnya sarat makna kehidupan.
Menurut beliau, warok bukanlah orang yang hanya menguasai ilmu kanuragan, melainkan manusia yang memahami sangkan paraning dumadi, yakni asal usul dan tujuan hidup manusia.
Di samping aktivitas sosial dan budayanya, beliau juga tercatat sebagai Ketua Perwakilan Aliran Kepercayaan Purwa Ayu Mardi Utama Ponorogo bagian barat.
Bersama sang istri Kasemi, beliau membesarkan lima orang anak, yakni Ismini, Siti Nurjanah, Rumanah, Trianawati, Gatot Harianto, di kediamannya di Jalan Raden Patah Nomor 4, Desa Kauman, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo.
Pada 13 Agustus 2008, Mbah Wo Kucing berpulang dalam usia 84 tahun. Meski telah tiada, pemikiran, keteladanan, dan perjuangannya tetap hidup dalam setiap irama gamelan, setiap langkah Jathil, setiap kibasan Dadak Merak, dan dalam semangat persaudaraan para pelaku seni Reyog Ponorogo.
Haul Ke-18 ini menjadi pengingat bahwa warisan terbesar Mbah Wo Kucing bukan hanya kesenian Reyog, tetapi juga nilai persatuan, kerendahan hati, keberanian menjaga budaya, dan semangat guyub rukun yang terus diwariskan kepada generasi penerus.
Reporter: Eka Harnawa
Editor: Tim Redaksi Wartakotakita.com




