NEWS

Bendera Merah Putih Disiram Kembang Setaman, Tradisi Sakral Warnai Pembangunan Rumah Sasaran RTLH TMMD ke-129

Di balik pembangunan rumah sederhana milik Ibu Parmi di Dukuh Gupit, tersimpan warisan budaya yang masih dijaga turun-temurun. Tradisi penyiraman kembang setaman pada bendera Merah Putih menjadi simbol doa, syukur, sekaligus harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Ponorogo - Wartakotakita.com – Di tengah semangat gotong royong pelaksanaan TMMD ke-129 Kodim 0802/Ponorogo, suasana berbeda tampak di lokasi rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Ibu Parmi (58), warga Dukuh Gupit, Desa Bulu Lor, Kamis (6/8/2026). Pembangunan rumah yang menjadi salah satu sasaran fisik TMMD itu tidak hanya menghadirkan kerja keras prajurit TNI dan masyarakat, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi adat pendirian rumah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Rumah milik Ibu Parmi merupakan salah satu sasaran yang memiliki tantangan tersendiri. Lokasinya berada paling jauh dari pusat kegiatan TMMD, akses menuju lokasi sangat terbatas, bahkan pengiriman material harus dilakukan dengan perjuangan ekstra. Semula, rumah tersebut direncanakan direhabilitasi total dari awal. Namun berkat sinergi Satgas TMMD bersama warga, pembangunan berlangsung lebih cepat hingga kini memasuki tahap pemasangan rangka atap.

Di balik deru pekerjaan pembangunan, suasana mendadak berubah khidmat. Beberapa anggota Satgas TMMD, keluarga Ibu Parmi, dan warga sekitar berkumpul di dalam bangunan yang masih berdiri tanpa atap. Di tangan Ibu Parmi tampak sepanci kembang setaman berisi bunga mawar, melati, kenanga, dan kantil yang dicampur air bersih.

Prosesi adat dipimpin oleh Yatimun (54), tukang kayu yang juga adik kandung Ibu Parmi. Dengan penuh khusyuk ia memanjatkan doa, kemudian meniup bendera Merah Putih yang telah dililitkan pada sebatang kayu jati berukuran 8 x 12 sentimeter yang akan dijadikan molo, yaitu balok utama penyangga atap rumah.

Setelah doa selesai, Ibu Parmi bersama anggota Satgas TMMD menyiramkan kembang setaman ke kayu molo tersebut. Diiringi bisikan lirih, masing-masing memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar rumah yang sedang dibangun diberikan keberkahan, ketahanan, keselamatan, serta menjadi tempat yang menghadirkan kesejahteraan dan kedamaian bagi penghuninya.

"Ini adalah tradisi turun-temurun saat mendirikan atap rumah di sini. Semua rumah dahulu kalau menaikkan molo ya seperti ini adatnya. Molo ditindik dengan logam berharga meskipun kecil, dilapisi daun dadap serep, lalu dibalut dengan bendera Merah Putih," tutur Yatimun.

Menurutnya, bendera Merah Putih bukan sekadar pelengkap upacara adat, melainkan simbol penghormatan yang sangat dimuliakan masyarakat setempat.

"Bendera Merah Putih adalah pusaka bagi masyarakat di sini. Karena itu selalu dipasang di titik tertinggi setiap rumah. Kemudian disiram dengan kembang setaman sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus doa agar Tuhan memberikan yang terbaik kepada penghuni rumah," lanjutnya.

Usai prosesi adat, pekerjaan pembangunan kembali dilanjutkan. Tahap berikutnya adalah pemasangan kerangka atap, kaso, dan reng, sedangkan keesokan harinya direncanakan mulai pemasangan genting.

Yatimun optimistis seluruh proses pembangunan akan selesai sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Kebersamaan antara warga Dukuh Gupit dan Satgas TMMD menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan rumah layak huni bagi Ibu Parmi.

Lebih dari sekadar membangun rumah, TMMD ke-129 di Desa Bulu Lor juga menjadi ruang pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Di tengah kemajuan zaman, tradisi menyiram kembang setaman pada bendera Merah Putih yang menghiasi molo rumah menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya berdiri di atas pondasi beton, tetapi juga bertumpu pada doa, gotong royong, dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Penulis : Eka Harnawa
Reporter : MdC0802 (pam)
Editor : Tim Redaksi Wartakotakita.com

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image