NEWS

150 Kasepuhan Pakasa Gebang Tinatar (Kasepuhan Blumbang Segoro) Ikuti Grebeg Mulud Kraton Surakarta, Bawa Semangat Nguri-uri Kabudayan Jawi

Foto Kirab Grebeg Mulud
Kraton Surakarta Hadiningrat 2026

WARTAKOTAKITA.COM | SURAKARTA - Sebanyak 150 Kasepuhan Pakasa Gebang Tinatar Ponorogo diwakili Kasepuhan Blumbang Segoro bersama Lembaga Dewan Adat (LDA) mengikuti rangkaian kegiatan Grebeg Mulud Kraton Surakarta Hadiningrat, Rabu pagi, 26 Agustus 2026.

Kehadiran rombongan Kasepuhan Pakasa Gebang Tinatar menjadi bagian dari suasana khidmat Grebeg Mulud, sekaligus menunjukkan kuatnya hubungan budaya dan silaturahmi antar kasepuhan dalam lingkungan kebudayaan Jawa.

Kirab dimulai dari Dalem Kraton Surakarta Hadiningrat. Rombongan mengikuti perjalanan kirab dengan mengiringi gamelan dan Buceng Gunungan menuju Masjid Agung Kraton Surakarta Hadiningrat.

Prosesi kirab berlangsung dalam suasana penuh penghormatan terhadap tradisi. Gamelan yang mengiringi perjalanan berpadu dengan kehadiran Buceng Gunungan, menciptakan suasana khas Grebeg Mulud yang sarat dengan nilai budaya dan simbol kehidupan masyarakat Jawa.

Foto Kirab dipimpin BRM Suryo Mulyo

Kirab tersebut dipimpin oleh BRM (Bendoro Raden Mas) Suryo Mulyo.

Sementara itu, rombongan Kasepuhan Pakasa Gebang Tinatar Ponorogo dipangarsani oleh KRA Suro Agul-Agul.

Bagi Kasepuhan Pakasa Gebang Tinatar, mengikuti Grebeg Mulud bukan semata-mata menghadiri sebuah kegiatan tradisi. Kehadiran mereka juga menjadi bentuk penghormatan terhadap Kraton Surakarta Hadiningrat serta bagian dari upaya menjaga kesinambungan budaya Jawa.

Dari Dalem Kraton Menuju Masjid Agung

Kirab menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Grebeg Mulud.

Dari Dalem Kraton Surakarta Hadiningrat, para peserta berjalan menuju Masjid Agung Kraton Surakarta Hadiningrat dengan iringan gamelan dan Buceng Gunungan.

Di tengah perkembangan zaman, prosesi semacam ini menjadi pengingat bahwa kebudayaan tidak hanya berbicara mengenai masa lalu.

Tradisi terus hidup ketika ada generasi yang bersedia hadir, menjalankan, dan meneruskan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.

Kehadiran 150 Kasepuhan Pakasa Gebang Tinatar dari Ponorogo sekaligus memperlihatkan bahwa semangat nguri-uri kabudayan Jawi masih terus dijaga.

Foto suasana khidmat
Kasepuhan Pakasa Gebang Tinatar
sedang berdoa usai Kirab Grebeg Mulud

Usai Kirab, Kasepuhan Ponorogo Gelar Doa Bersama

Setelah rangkaian kirab selesai, Kasepuhan Pakasa Gebang Tinatar Ponorogo melanjutkan kegiatan dengan doa bersama kagem Sinuwun Gusti Hangabehi.

Doa bersama tersebut menjadi ungkapan penghormatan sekaligus rasa syukur atas terselenggaranya rangkaian kegiatan Grebeg Mulud.

Bagi para kasepuhan, doa juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara tradisi budaya dan nilai spiritual yang selama ini melekat dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Suasana doa bersama berlangsung dalam semangat kebersamaan para kasepuhan yang datang dari Ponorogo.

KRA Suro Agul-Agul: Kehadiran Kasepuhan adalah Bentuk Penghormatan

Foto tengah KRA Suro Agul-Agul pada saat diwawancarai tim Redaksi Wartakotakita.com

KRA Suro Agul-Agul, yang memimpin Kasepuhan Pakasa Gebang Tinatar Ponorogo dalam kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa keikutsertaan rombongan merupakan bentuk penghormatan sekaligus upaya menjaga hubungan budaya.

“Kehadiran Kasepuhan Pakasa Gebang Tinatar dalam Grebeg Mulud ini merupakan bentuk penghormatan kepada Kraton Surakarta Hadiningrat sekaligus untuk mempererat tali silaturahmi dan hubungan kebudayaan Jawa.”

Menurut KRA Suro Agul-Agul, keberadaan para kasepuhan dalam kegiatan tradisi juga menjadi bagian dari tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

“Kami ingin terus nguri-uri kabudayan Jawi. Tradisi seperti ini jangan sampai berhenti pada satu generasi, tetapi harus terus dikenalkan dan diwariskan kepada anak cucu.”

Ia menambahkan, kehadiran sekitar 150 kasepuhan dari Ponorogo menunjukkan adanya semangat kebersamaan dalam merawat tradisi.

“Yang paling penting adalah kebersamaan. Kami datang bersama para kasepuhan dengan niat menjaga silaturahmi, menghormati tradisi, dan bersama-sama melestarikan budaya Jawa.”

Doa untuk Sinuwun PB IV Gusti Hangabehi

Mengenai doa bersama setelah kirab, KRA Suro Agul-Agul menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki makna tersendiri bagi rombongan Kasepuhan Pakasa Gebang Tinatar.

“Setelah kirab, kami melaksanakan doa bersama kagem Sinuwun Gusti Hangabehi. Ini merupakan bentuk penghormatan dan rasa syukur, sekaligus memanjatkan doa agar senantiasa diberikan keselamatan, ketenteraman, dan kebaikan.”

Doa bersama itu menjadi penutup rangkaian kegiatan Kasepuhan Ponorogo setelah mengikuti kirab Grebeg Mulud.

Bagi mereka, perjalanan dari Dalem Kraton menuju Masjid Agung bukan hanya sebuah prosesi budaya, tetapi juga perjalanan batin untuk kembali mengingat nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur.

Tradisi yang Harus Tetap Hidup

Grebeg Mulud Kraton Surakarta Hadiningrat menjadi salah satu ruang penting bagi bertemunya tradisi, masyarakat, dan para pelaku kebudayaan.

Kehadiran Kasepuhan Pakasa Gebang Tinatar Ponorogo memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak mengenal batas wilayah.

Dari Ponorogo menuju Surakarta, para kasepuhan membawa semangat yang sama: menjaga silaturahmi, menghormati tradisi, dan meneruskan warisan budaya Jawa.

Di tengah gamelan yang mengiringi kirab, Buceng Gunungan yang menjadi bagian dari prosesi, serta doa yang dipanjatkan bersama, tersimpan pesan sederhana namun kuat.

Bahwa tradisi akan tetap hidup selama masih ada manusia yang bersedia menjaganya.

Dan pagi itu, 150 Kasepuhan Pakasa Gebang Tinatar Ponorogo hadir di Kraton Surakarta Hadiningrat bukan sekadar sebagai peserta kirab.

Mereka datang membawa semangat untuk nguri-uri kabudayan Jawi, agar warisan leluhur tetap memiliki tempat di hati generasi masa kini dan generasi yang akan datang.


KUTIPAN UTAMA KRA SURO AGUL-AGUL

“Kehadiran Kasepuhan Pakasa Gebang Tinatar dalam Grebeg Mulud ini merupakan bentuk penghormatan kepada Kraton Surakarta Hadiningrat sekaligus untuk mempererat tali silaturahmi dan hubungan kebudayaan Jawa.”

KUTIPAN PENGUAT

“Kami ingin terus nguri-uri kabudayan Jawi. Tradisi seperti ini jangan sampai berhenti pada satu generasi, tetapi harus terus dikenalkan dan diwariskan kepada anak cucu.”


Penulis: Eka Harnawa
Reporter: Tim Wartakotakita.com
Editor: Redaksi Wartakotakita.com

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image