NEWS

Inilah Ketua Paguyuban Reyog Termuda, Usianya Baru 17 Tahun

Penyerahan Tombak Kyai Mulyo Utomo dari Shiwo (Sesepuh Reyog Ponorogo) kepada Juve yang mendapatkan amanah sebagai Ketua Paguyuban Reyog Simo Mulyo Utomo

Dari panggung Reyog sejak usia sekolah, Satwiko Juveyuwono Sanjiasworo kini dipercaya menahkodai Paguyuban Reyog Simo Mulyo Utomo

Balong, Ponorogo - Wartakotakita.com - Semangat melestarikan seni budaya tradisi Reyog Ponorogo kini tumbuh dari generasi muda. Salah satunya terlihat dari lahirnya Paguyuban Reyog Simo Mulyo Utomo, Desa Karangan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, yang resmi dibentuk pada 10 Agustus 2026.

Menariknya, paguyuban yang mayoritas pemainnya masih berusia muda tersebut dipimpin oleh seorang pemuda yang usianya baru 17 tahun. Ia adalah Satwiko Juveyuwono Sanjiasworo, atau akrab disapa Juve.

Juve dipercaya menjadi Ketua Paguyuban Reyog Simo Mulyo Utomo oleh Dewan Pembina, Sri Widagdo Purwo Ardyasworo atau yang akrab disapa Didit. Kepercayaan tersebut menjadi bagian dari upaya mencetak generasi penerus yang tidak hanya mampu memainkan Reyog, tetapi juga memiliki kecintaan terhadap budaya leluhur.

Perdana Tampil dengan Semangat Generasi Muda

Pergelaran perdana Paguyuban Reyog Simo Mulyo Utomo digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, di halaman rumah Sri Widagdo Purwo Ardyasworo, Senin siang, 10 Agustus 2026.

Pementasan perdana itu terasa istimewa karena tampil dengan kekuatan generasi muda. Sebanyak 6 Jathil, 7 Bujang Ganong, dan 8 Dadak Merak turut memeriahkan pertunjukan. Sebagian besar pemain merupakan warga muda yang berdomisili di Desa Karangan, Kecamatan Balong.

Didit (Dewan Pembina Reyog Simo Mulyo Utomo) menyerahkan Tombak Kyai Mulyo Utomo kepad Shiwo (Sesepuh Reyog Ponorogo) 

Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Suasana kemudian dilanjutkan dengan prosesi penyerahan Tombak Kyai Mulyo Utomo dari Dewan Pembina kepada Sesepuh Seniman Reyog Ponorogo kemudian diserahkan kepada Ketua Paguyuban Reyog Simo Mulyo Utomo.

Penyerahan tombak tersebut menjadi simbol sekaligus pesan agar generasi muda terus memiliki semangat dalam melestarikan seni budaya tradisi Reyog Ponorogo.

Kepercayaan Besar di Usia 17 Tahun

Bagi Didit, menunjuk Juve sebagai ketua bukan sekadar memberikan jabatan kepada seorang anak muda. Lebih dari itu, terdapat harapan besar agar kepemimpinan Juve mampu menjadi pintu masuk bagi semakin banyak generasi muda untuk mencintai Reyog.

Didit mengatakan dirinya sebagai Dewan Pembina Paguyuban Reyog Simo Mulyo Utomo ingin mencetak generasi-generasi muda yang cinta dan sayang terhadap kesenian Reyog.

Karena itulah, kepercayaan diberikan kepada Juve untuk menahkodai paguyuban tersebut.

Bagi Juve, kepercayaan itu menjadi sebuah kehormatan sekaligus amanah yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.

“Ini suatu kehormatan bagi saya yang dipercayai untuk menahkodai Paguyuban Reyog Simo Mulyo Utomo. Saya akan mengemban amanat ini dengan baik dan benar. Saya mohon doa restu, semoga ke depan banyak generasi-generasi muda yang mau belajar dan melestarikan kesenian Reyog Ponorogo,” ujar Juve.

 

Pesona Reyog Simo Mulyo Utomo tampil memukau, menyatukan seni, budaya, dan semangat generasi muda Ponorogo.

Kecintaan yang Tumbuh Sejak Bangku Sekolah

Juve bukan sosok yang tiba-tiba masuk ke dunia Reyog. Kecintaannya terhadap kesenian Reyog telah tumbuh sejak usia dini.

Saat bersekolah di SDN 1 Balong, Juve sudah ikut menari Reyog. Kecintaannya terhadap kesenian tradisi tersebut kemudian berlanjut ketika ia menempuh pendidikan di SMPN 1 Balong.

Di sekolah tersebut, Juve bergabung dengan Paguyuban Seni Reyog Simo Wiyata Mudho SMPN 1 Balong. Di sana ia dipercaya sebagai Pembarong dan turut mengikuti Festival Reyog Remaja 2025, salah satu ajang seni Reyog yang rutin digelar di Kabupaten Ponorogo.

Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi Juve untuk terus mendalami seni tradisi.

Setelah lulus dari SMPN 1 Balong, ia melanjutkan pendidikan ke SMKN 8 Surakarta, yang dahulu dikenal sebagai SMKI, dengan mengambil Jurusan Seni Tari.

Pilihan pendidikan tersebut semakin memperlihatkan keseriusannya untuk menjadikan seni budaya bukan sekadar hobi, tetapi bagian dari perjalanan hidupnya.

Juve (kiri) pada saat duet dengan Yosika (penari Bujangganong senior) tampil sangat lucu dan menghibur masyarakat. 

Menjaga Warisan Leluhur

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, keberadaan anak-anak muda seperti Juve menjadi harapan bagi keberlanjutan kesenian tradisi Reyog Ponorogo.

Kini, di usianya yang masih sangat muda, Juve mendapatkan tanggung jawab untuk memimpin sebuah paguyuban. Di balik usia belianya, terdapat pengalaman dan kecintaan yang telah ia bangun sejak duduk di bangku sekolah dasar.

Dari seorang penari muda, Juve kini dipercaya menjadi nahkoda paguyuban Reyog.

Langkah tersebut tentu bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk mengajak generasi muda lainnya mengenal, belajar, mencintai, dan menjaga Reyog Ponorogo.

Juve pun memiliki cita-cita untuk terus mengabdi kepada seni budaya tradisi sebagai warisan leluhur.

Semangat itu menjadi pesan penting dari lahirnya Paguyuban Reyog Simo Mulyo Utomo: bahwa menjaga Reyog tidak harus menunggu dewasa. Generasi muda pun dapat mengambil peran sejak sekarang.

Reporter/penulis : Eka Harnawa
Editor : Tim Redaksi wartakotakita.com


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image