Menyusuri Jejak Pramonorogo di Gua Sigolo-Golo, Doa Bersama Sambut Hari Jadi Ponorogo ke-530
Di tempat yang dipercaya menjadi salah satu titik penting tercetusnya nama Pramonorogo, sekitar 100 orang berkumpul dalam doa bersama untuk mengenang leluhur dan merawat jejak sejarah Bumi Reyog.
Ponorogo - Wartakotakita.com - Hening malam menyelimuti kawasan Gua Sigolo-Golo, Desa Japan, Senin malam, 10 Agustus 2026. Namun, suasana malam itu bukan sekadar keheningan sebuah petilasan. Di tempat yang menyimpan kisah panjang perjalanan sejarah Ponorogo tersebut, doa bersama dipanjatkan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-530 Kabupaten Ponorogo.
Sekitar 100 undangan hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas Keluarga Ageng Pakasa Gebang Tinatar, masyarakat dan tokoh masyarakat Desa Japan, serta keluarga MTS Setono.
Dalam suasana khidmat, para peserta bersama-sama memanjatkan doa. Selain menjadi ungkapan syukur atas perjalanan panjang Kabupaten Ponorogo, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mengenang para leluhur yang dipercaya memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Bumi Reyog.
Gua yang Menyimpan Cerita Awal Ponorogo
Bagi masyarakat setempat, Gua Sigolo-Golo bukan sekadar sebuah tempat atau petilasan. Gua ini menyimpan cerita yang diwariskan secara turun-temurun mengenai awal perjalanan nama Ponorogo.
Dalam tradisi sejarah lokal yang berkembang di masyarakat, Gua Sigolo-Golo dipercaya sebagai tempat pertama tercetusnya nama Pramonorogo, yang dalam perjalanan sejarah akhirnya berkembang menjadi nama Ponorogo.
Kisah tersebut menjadikan Gua Sigolo-Golo memiliki posisi istimewa dalam ingatan budaya masyarakat. Setiap sudut tempat itu seolah mengajak siapa pun untuk kembali menengok masa lampau, ketika perjalanan sebuah wilayah dan masyarakatnya mulai membentuk identitas yang kelak dikenal sebagai Ponorogo.
Gua Sigolo-Golo juga dikaitkan dengan kisah pertemuan Eyang Batara Katong dengan Eyang Jodrono dan Eyang Joyodipo.
Pertemuan para tokoh tersebut menjadi bagian dari cerita sejarah dan tradisi lisan yang terus hidup di tengah masyarakat. Kisah-kisah itu tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya dan penghormatan masyarakat Ponorogo terhadap leluhurnya.
Ketika Sejarah Dipertemukan dengan Doa
Malam itu, Gua Sigolo-Golo seolah menjadi ruang pertemuan antara masa lalu, masa kini dan masa depan.
Masa lalu hadir melalui kisah para leluhur dan jejak perjalanan awal Ponorogo. Masa kini hadir melalui masyarakat yang masih menjaga tradisi dan berkumpul bersama. Sementara masa depan dititipkan melalui doa agar Ponorogo senantiasa diberikan kedamaian, kemajuan dan keberkahan.
Bagi generasi sekarang, kegiatan semacam ini memiliki makna lebih dari sekadar ritual tahunan. Mengenang sejarah berarti menjaga ingatan kolektif, sementara merawat petilasan berarti menjaga salah satu bagian dari warisan budaya yang dimiliki masyarakat.
Terlebih, perjalanan sejarah Ponorogo memiliki banyak lapisan cerita, tradisi dan sumber yang terus menjadi bahan kajian. Karena itu, kisah yang hidup di tengah masyarakat tetap memiliki tempat penting sebagai bagian dari khazanah sejarah dan budaya lokal.
Di tengah derasnya perubahan zaman, Gua Sigolo-Golo menjadi pengingat bahwa Ponorogo memiliki akar sejarah yang panjang.
Dari tempat ini, masyarakat kembali mengenang kisah tentang Pramonorogo, para leluhur, serta perjalanan panjang yang akhirnya melahirkan nama Ponorogo.
Doa bersama malam itu pun menjadi simbol sederhana namun penuh makna: menghormati leluhur, menjaga budaya, merawat sejarah, dan menitipkan masa depan Ponorogo kepada generasi penerus.
Ketika doa selesai dipanjatkan, malam terus berjalan.
Namun cerita tentang Gua Sigolo-Golo dan jejak Pramonorogo tetap hidup dituturkan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari perjalanan panjang Bumi Reyog menuju usia 530 tahun.
Selamat Hari Jadi ke-530 Kabupaten Ponorogo.
Merawat jejak leluhur, menjaga budaya, dan melanjutkan perjalanan sejarah Bumi Reyog.
Penulis: Eka Harnawa
Editor: Tim Redaksi wartakotakita.com
