Sadranan Mapak Wulan Poso di Makam Eyang Batoro Katong, Laku Budaya Menyambut Bulan Suci
![]() |
| GRAy Koes Murtiyah Wandansari bersama Pakasa Gebang Tinatar Ponorogo Ziarah Leluhur di Pemakaman Eyang Batoro Katong |
Doa dan Ziarah Leluhur Bersama Keluarga Kraton Surakarta Hadiningrat di Ponorogo
Ponorogo - Wartakotakita.com - Suasana khidmat dan penuh nuansa spiritual menyelimuti kawasan Makam Eyang Batoro Katong, Minggu pagi, 8 Februari 2026. Sejak pukul 09.30 WIB, para undangan berdatangan mengenakan busana batik lengkap dengan blangkon dan samir, mengikuti rangkaian Sadranan Mapak Wulan Poso, sebuah tradisi adat sebagai laku batin menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
![]() |
| Pakasa Gebang Tinatar Doa Bersama di Pemakaman Eyang Batoro Katong |
Tradisi ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus upaya membersihkan hati sebelum memasuki bulan penuh ampunan. Kehadiran keluarga besar Kraton Surakarta Hadiningrat menegaskan kuatnya ikatan sejarah dan spiritual yang terjalin antara Ponorogo dan tradisi leluhur yang terus dijaga hingga kini.
![]() |
| Suasana Khidmat Pakasa Gebang Tinatar Ketika Ziarah di Makam Eyang Batoro Katong |
Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GRAy Koes Murtiyah Wandansari atau yang akrab disapa Gusti Moeng, menegaskan bahwa Sadranan Mapak Wulan Poso merupakan momentum penting untuk menata batin dan menguatkan kesadaran spiritual masyarakat.
“Sadranan Mapak Wulan Poso ini adalah laku budaya sekaligus laku batin. Kita diajak eling, membersihkan rasa, serta mendoakan para leluhur agar perjalanan spiritual menuju bulan suci berjalan dengan hati yang bening,” tutur Gusti Moeng.
![]() |
| Pakasa Gebang Tinatar Berfoto dengan Kanjeng Pangeran Eddy Wirabhumi |
Menurutnya, tradisi Sadranan juga menjadi sarana menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur seperti andhap asor, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sejarah. Nilai-nilai tersebut, kata dia, harus terus diwariskan agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama di Makam Eyang Batoro Katong. Suasana hening terasa menyatu dengan jejak sejarah Ponorogo sebagai daerah yang tumbuh dari nilai perjuangan, spiritualitas, dan budaya para pendahulu.
![]() |
| dari kiri Juru Kunci Makam, KP Eddy Wirabhumi, Ki KRT Sentho Yitno Carito |
Usai prosesi utama, kegiatan dilanjutkan dengan ziarah ke sejumlah makam dan petilasan bersejarah, meliputi Makam Eyang Batoro Katong, Makam Eyang Jayengrono, Makam Tegalsari, serta Petilasan Sunan Kumbul. Ziarah ini menjadi simbol penghormatan dan doa agar keteladanan para leluhur tetap hidup dan memberi tuntunan bagi generasi masa kini.
Lebih lanjut, Gusti Moeng menegaskan bahwa keberlanjutan tradisi adat merupakan tanggung jawab bersama.
“Budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dilakoni. Selama tradisi ini dijalankan dengan niat yang tulus, maka ia akan terus hidup dan memberi arah dalam kehidupan bermasyarakat,” imbuhnya.
Melalui Sadranan Mapak Wulan Poso, masyarakat diajak untuk menata niat, mempererat silaturahmi, serta meneguhkan jati diri budaya menjelang datangnya Ramadan. Tradisi ini menjadi penanda bahwa persiapan menuju bulan suci tidak hanya soal waktu, melainkan kesiapan hati, jiwa, dan kesadaran akan akar sejarah.
Penulis : Eka Harnawa
Editor : Tim Redaksi Wartakotakita.com




