Bathari Band, Ketika Mimpi Kecil Menjadi Panggung Besar Perempuan Ponorogo
![]() |
| (dari kiri) Abiagil Biola - Naya Gitar - Ellaeine Drum - Kidung Vocal - Joda Keyboard - Aira Bass |
Dari Kegelisahan Seorang Ayah, Enam Perempuan Merajut Harmoni Musik Bathari Band
PONOROGO - Wartakotakita.com - Semua bermula dari sebuah kegelisahan sederhana. Di tengah denyut musik yang terus berkembang, Andri Arista Ramadhona kerap bertanya dalam diam: mengapa di Ponorogo belum ada band dengan personel perempuan semua? Bukan sekadar soal musik, tetapi tentang ruang, keberanian, dan kesempatan.
“Kelihatannya akan menarik,” pikirnya kala itu. Sebuah kalimat singkat, namun menjadi benih dari perjalanan panjang yang tak selalu mudah.
Di era ketika musik digital dan kecerdasan buatan semakin mendominasi, Andri justru percaya pada satu hal yang tak bisa digantikan teknologi: jiwa manusia di atas panggung. Musik, baginya, bukan sekadar bunyi, tetapi rasa yang hidup ketika dimainkan, dipandang, dan dirasakan langsung oleh penonton.
Dari keyakinan itulah nama Bathari Band lahir. Bathari dimaknai sebagai dewi, sosok perempuan yang dimuliakan. Nama yang kelak menjadi doa, harapan, sekaligus identitas bagi enam perempuan muda yang akan mengisinya.
Namun mimpi tak selalu datang dengan jalan mulus. Mencari talenta perempuan yang mampu dan mau bermain musik di Ponorogo ternyata bukan perkara gampang. Berkali-kali harapan hampir pupus. Tapi justru di sanalah tekad Andri semakin menguat.
“Kesulitannya malah membuat saya semakin tertantang,” ujarnya.
Perjalanan itu dimulai secara perlahan pada akhir 2021, dari ruang paling dekat: rumah. Andri melatih putrinya sendiri, Kidung Kinabekti, membentuk karakter vokal, menanamkan keberanian, dan membekalinya dengan lagu-lagu ciptaan sendiri. Di ruang latihan sederhana itu, mimpi mulai menemukan nadanya.
Awalnya Kidung berlatih sendiri. Namun waktu berjalan, dan musik membutuhkan dialog. Kidung sebagai vocal pun dipertemukan dengan teman-teman sejiwa: Jodda di keyboard dan Aira pada bass. Tiga perempuan, tiga warna bunyi, tapi belum cukup untuk menjadi sebuah band.
Pencarian pun berlanjut, hingga satu per satu kepingan itu melengkapi harmoni. Hadir Abigail dengan biola yang memberi sentuhan emosional, Naya dengan gitar yang menguatkan karakter, serta Ellaeine di balik drum yang menjadi denyut nadi irama. Enam perempuan, enam karakter, satu mimpi yang sama.
Tahun 2026 menjadi titik balik. Setelah perjalanan panjang penuh kesabaran, Bathari Band akhirnya resmi lahir ke hadapan publik. Album perdana bertajuk “First” bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan penanda sebuah keberanian: bahwa perempuan Ponorogo bisa berdiri di panggung musik dengan percaya diri.
“Alhamdulillah, Bathari Band akhirnya lahir. Personelnya perempuan semua, dari sekolah yang berbeda-beda. Semoga ke depan bisa membawa kebanggaan bagi masyarakat Ponorogo,” ucap Andri, suaranya penuh syukur.
Kehadiran Bathari Band bukan hanya menambah daftar musisi lokal. Mereka adalah simbol. Tentang mimpi yang dipelihara dengan sabar. Tentang perempuan yang berani mengambil ruang. Dan tentang musik yang lahir dari cinta, bukan sekadar teknologi.
Di Ponorogo, kini ada cerita baru. Cerita tentang enam perempuan dan sebuah mimpi yang akhirnya menemukan panggungnya.
Silahkan saksikan di YouTube klik Bathari Band – First, Bagaimana pendapat anda, silahkan berkomentar saran dan kritik selalu kami nanti.
Penulis : Eka Harnawa
Editor : Tim Redaksi Wartakotakita.com
