NEWS

Tokoh Nasional Asli Ponorogo Yang Terlupakan

Prof. Ir. R. Goenarso, insinyur, pendidik, dan teknokrat Indonesia, tokoh penting dalam pembangunan pendidikan tinggi teknik pada masa awal Republik.(Foto: Arsip Sejarah Nasional Republik Indonesia)

Prof. Ir. R. Goenarso dan Kerja Teknokratik dalam Pembangunan Republik.

Oleh: Sri Widagdo Purwo Ardyasworo
Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Sejarah, Universitas Diponegoro. 

Historiografi Indonesia cenderung menempatkan tokoh-tokoh politik dan militer di panggung utama narasi kebangsaan. Namun, pembangunan negara modern tidak pernah hanya bergantung pada satu kategori aktor. Di balik dinamika revolusi dan diplomasi, terdapat kontribusi para teknokrat dan pendidik yang menyiapkan fondasi kelembagaan bagi republik muda. Salah satu figur yang layak mendapat perhatian lebih dalam diskursus ini adalah Prof. Ir. R. Goenarso seorang insinyur kelahiran Ponorogo yang memainkan peran penting dalam sejarah pendidikan tinggi teknik Indonesia.

Latar Belakang dan Pendidikan

R. Goenarso lahir pada 22 Oktober 1908 di Ponorogo, Jawa Timur. Ia menempuh pendidikan menengah di MULO Madiun (1926) dan AMS-B Yogyakarta (1929), sebelum melanjutkan studi ke Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandung). Pada Juni 1935, ia lulus sebagai insinyur sipil dengan gelar Bandoengsche civiel ingenieur. Dalam konteks kolonial yang sangat membatasi akses pribumi terhadap pendidikan tinggi teknik, capaian akademik Goenarso merupakan prestasi luar biasa.

Karier Awal dan Dunia Pendidikan

Pasca kelulusan, Goenarso menekuni dunia pendidikan dengan mendirikan dan mengelola sekolah bersama seniornya, Ir. Roosseno. Pada masa pendudukan Jepang, ketertarikannya pada matematika semakin mendalam. Pada 1 April 1944, ia bersama Roosseno dan sejumlah alumni TH Bandung diangkat sebagai staf pengajar di Bandung Kogyo Daigaku, mengajar Ilmu Pasti dan Fisika.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Goenarso turut membuka Sekolah Tinggi Teknik Bandung pada Agustus 1945, dan ikut memindahkannya ke Yogyakarta pada November 1945 demi menjamin keberlangsungan pendidikan tinggi teknik di tengah situasi revolusi.

Peran dalam Kabinet Sjahrir III

Kontribusi Goenarso dalam pemerintahan mencapai puncaknya ketika ia dipercaya menjabat Menteri Muda Pengajaran dalam Kabinet Sjahrir III pada periode 2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947, menggantikan Todung Sutan Gunung Mulia. Pada saat itu, Mr. Soewandi menjabat sebagai Menteri Pengajaran. Jabatan Menteri Muda setara dengan wakil menteri dalam struktur kabinet masa kini.

Goenarso tercatat sebagai menteri yang pertama kali menggalakkan program pemberantasan buta huruf di Indonesia sebuah agenda strategis mengingat pada tahun 1945 sekitar 90 persen rakyat Indonesia masih buta aksara.

Karier Pasca-Kabinet dan Kontribusi Akademik

Setelah tidak lagi menjabat di kabinet, Goenarso melanjutkan pengabdian di berbagai posisi strategis. Pada 1 April 1953, ia diangkat sebagai Kepala Jawatan Meteorologi dan Geofisika, menggantikan Prof. Dr. Franz Heinrich Schmidt, sekaligus menjadikannya orang pribumi pertama yang memimpin lembaga tersebut.

Pada 1954, Goenarso dikukuhkan sebagai Guru Besar Matematika di Universitas Indonesia Bandung melalui orasi ilmiah di Aula Fakultas Teknik Bandung (27 November 1954). Pada tahun yang sama, ia juga menjadi anggota Panitia Negara untuk Penyelidikan Radio-aktivitet yang diketuai dr. G.A. Siwabessy.

Peran dalam Konsolidasi Institut Teknologi Bandung

Peran Goenarso dalam konsolidasi pendidikan tinggi teknik berlanjut saat ia menjadi anggota panitia persiapan pendirian Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia kemudian diangkat sebagai anggota Presidium ITB, yang menjalankan administrasi penyelenggaraan ITB sejak diresmikan pada 2 Maret 1959 hingga pengangkatan rektor definitif, Prof. Ir. R.O. Kosasih, pada 1 November 1959.

Presidium tersebut dipimpin Prof. Ir. R. Soemono, dengan anggota Prof. dr. R.M. Djoehana Wiradikarta, Prof. Ir. Soetedjo, dan panitera Prof. Dr. Ir. R.M. Soemantri Brodjonegoro. Selain itu, Goenarso menjabat sebagai Ketua Departemen Matematika (1958–1960) dan Ketua Departemen Geofisika dan Meteorologi (1959–1967).

Refleksi Historiografis

Minimnya perhatian terhadap figur seperti Goenarso dalam narasi sejarah populer mencerminkan kecenderungan historiografi yang lebih menyukai peristiwa dramatik dan tokoh karismatik. Padahal, keberhasilan negara tidak hanya bergantung pada keberanian politik, tetapi juga pada kerja teknokratik yang sistematis meliputi penyiapan sumber daya manusia, konsolidasi kelembagaan, dan pembangunan sistem pengetahuan.

Goenarso mewakili kategori aktor yang sering diabaikan, namun justru esensial dalam proses nation-building.

Ponorogo dan Kontribusi Daerah dalam Negara Modern

Membaca ulang kiprah Goenarso juga mengajak kita meninjau kembali kontribusi daerah dalam pembentukan negara modern. Ponorogo, yang kerap dikaitkan semata dengan warisan budaya dan tradisi pertunjukan, ternyata juga melahirkan figur teknokrat yang berperan penting dalam infrastruktur pendidikan nasional.

Fakta ini menegaskan bahwa sumber daya intelektual republik tidak hanya berasal dari pusat-pusat kolonial, melainkan juga dari wilayah-wilayah yang selama ini dianggap pinggiran.

Penutup

Prof. Ir. R. Goenarso wafat pada 6 Maret 1992 dalam usia 83 tahun. Namanya diabadikan sebagai Ruang Seminar Program Studi Meteorologi ITB di Gedung Labtek XI. Mengangkat kembali sosok Goenarso dalam diskursus publik bukanlah upaya glorifikasi individual, melainkan bagian dari usaha menyeimbangkan narasi sejarah nasional memberikan ruang yang layak bagi pendidik dan teknokrat yang bekerja di balik layar demi memastikan republik memiliki fondasi pengetahuan untuk bertahan dan berkembang.


Catatan Sumber

Artikel ini disusun berdasarkan sumber-sumber berikut yang dapat diverifikasi:

  1. Sakri, A. (1979). Dari TH ke ITB: Kenang-kenangan Lustrum Keempat 2 Maret 1979, Jilid 1 & 2. Bandung: Penerbit ITB.
  2. Goenarso. (1995). Riwayat Perguruan Tinggi Teknik di Indonesia, Periode 1920–1942. Bandung: Penerbit ITB.
  3. Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. Data Kabinet Sjahrir III.
  4. Pusaka Jawatimuran, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur. Prof. Ir. R. Goenarso, Kabupaten Ponorogo (2013).
  5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 230 Tahun 1954 tentang Panitia Negara untuk Penyelidikan Radio-aktivitet.
  6. Nieuw hoofd meteorologische dienst. Java-bode, 2 April 1953, Tahun ke-101 No. 194 (Arsip Delpher.nl).

Keterangan: Artikel ini telah direvisi untuk memastikan setiap klaim faktual dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan sumber yang dapat diverifikasi. Interpretasi historiografis tetap merupakan analisis penulis.



Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image