NEWS

Jejak Diaspora Ponorogo ke Suriname

foto Bok Sodimejo (arsip Ponorogo Tempo Dulu) 

Bukti Arsip Kolonial tentang Wagimin (1909) dan Bok Sodimedjo (1927) dalam Jaringan Tenaga Kerja Global

Oleh: Sri Widagdo Purwo Ardyasworo
Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Sejarah, Universitas Diponegoro, Semarang

Pendahuluan: Menemukan Jejak yang Terlupakan

Dalam periode 9 Agustus 1890 hingga 13 Desember 1939, sebanyak 32.965 imigran Jawa dikirim ke Suriname sebagai tenaga kerja kontrak, di mana 8.684 orang (26 persen) kembali ke Indonesia hingga tahun 1954, sementara sekitar 24.000 orang menetap secara permanen di negara Amerika Selatan tersebut (Nationaal Archief, Javaanse contractarbeiders in Suriname 1890–1930). Namun dari puluhan ribu nama yang tercatat dalam arsip kolonial, pertanyaan kritis jarang diajukan: dari desa mana tepatnya mereka berangkat? Wilayah apa di pedalaman Jawa yang kehilangan penduduknya secara senyap?

Artikel ini menyajikan bukti arsip primer yang menunjukkan bahwa penduduk dari Afdeling Ponorogo, Karesidenan Madiun, termasuk dalam arus besar emigrasi tenaga kerja kolonial ke Suriname. Dua individu yang teridentifikasi dari database Javaanse Contractarbeiders in Suriname di Nationaal Archief Den Haag yaitu Wagimin dari Desa Balong (berangkat 1909) dan Bok Sodimedjo dari Desa Mlilir (berangkat 1927) menjadi bukti konkret bahwa Ponorogo terhubung dengan jaringan global mobilisasi tenaga kerja kolonial.

Konteks Historis: Sistem Tenaga Kerja Kontrak Kolonial

Sistem tenaga kerja kontrak (contractarbeid) diperkenalkan di Suriname untuk menyediakan tenaga kerja di perkebunan pasca penghapusan perbudakan pada tahun 1863 (Hoefte, 1998: 1). Imigrasi pertama orang Jawa ke Suriname pada tahun 1890 merupakan eksperimen di perkebunan Marienburg, milik Nederlandse Handels-Maatschappij (NHM). Sebelumnya, perkebunan di Suriname terutama mempekerjakan tenaga kerja kontrak dari India Britania (Nationaal Archief, Javaanse contractarbeiders).

Rosemarijn Hoefte dalam kajian monumentalnya In Place of Slavery: A Social History of British Indian and Javanese Laborers in Suriname (1998) mencatat bahwa antara 1873 hingga 1940, lebih dari 34.000 orang India Britania dan hampir 33.000 orang Jawa memasuki Suriname dan secara efektif menggantikan para bekas budak di perkebunan (Hoefte, 1998: xii). Para pekerja kontrak ini bekerja di bawah kontrak yang mencakup poenale sanctie (sanksi pidana), yang memaksa mereka menempatkan tenaga kerja mereka sepenuhnya di bawah kendali majikan.

Struktur Administratif Kolonial: Posisi Ponorogo

Dalam struktur pemerintahan kolonial Hindia Belanda, Ponorogo merupakan bagian dari Afdeling Ponorogo di bawah Karesidenan Madiun (Residentie Madioen). Karesidenan Madiun dibentuk secara resmi pada 31 Januari 1830, pasca Perang Diponegoro, dan mencakup lima kabupaten: Madiun, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, dan Magetan. Luas wilayah keseluruhan mencapai 6.078,4 km² setelah restrukturisasi wilayah pada tahun 1905 melalui Staatsblad van Nederlandsch-Indie Nomor 605.

Kecamatan Balong, tempat asal Wagimin, merupakan pusat Kawedanan Jebeng yang berdiri pada masa kolonial dan bertahan hingga awal kemerdekaan. Kawedanan Jebeng adalah wilayah pembantu bupati Ponorogo yang mencakup bagian selatan Ponorogo, yaitu Balong, Slahung, Bungkal, dan Ngrayun (Wikipedia, Balong, Ponorogo). Desa Balong sendiri memiliki silsilah kepemimpinan yang tercatat sejak 1807, dengan kepala desa pertama bernama Setropati (Profil Desa Balong, 2016).

foto arsip Ponorogo Tempo Dulu

Studi Kasus I: Wagimin dari Desa Balong (1909)

Berdasarkan database Javaanse Contractarbeiders in Suriname yang tersimpan di Nationaal Archief Den Haag, ditemukan catatan tentang seorang laki-laki bernama Wagimin. Wagimin, putra dari Wagimin, lahir di Nederlands Oost-Indie, beragama Islam, berusia 24 tahun, dengan tinggi badan 148 cm. Ia memiliki tanda pengenal berupa tahi lalat di tulang pipi kanan (litt. rechter jukbeen).

Wagimin berangkat dari Pelabuhan Semarang pada 19 April 1909 menggunakan kapal uap SS Kediri dan Prins Frederik Hendrik dengan nomor monster 49. Ia tiba di Paramaribo, Suriname, dan bekerja untuk Koloniaal Gouvernement dengan kode kontrak LL126. Masa kontraknya berlangsung selama lima tahun, dari 16 Juni 1909 hingga 16 Juni 1914. Ia menerima premie (bonus penyelesaian kontrak) pada 2 Desember 1941 (Nationaal Archief, database Javaanse Contractarbeiders).

Yang paling signifikan dari catatan ini adalah pencantuman asal-usul geografis Wagimin secara sangat detail: Gewest Madioen, Afdeling Ponorogo, District Balong, Desa/dorp Balong. Tingkat kedetailan pencatatan ini hingga ke level desa merupakan bukti primer yang tidak terbantahkan bahwa penduduk dari wilayah Ponorogo memang dikirim ke Suriname sebagai bagian dari sistem tenaga kerja kontrak kolonial.

Studi Kasus II: Bok Sodimedjo dari Desa Mlilir (1927)

Delapan belas tahun setelah keberangkatan Wagimin, seorang perempuan muda dari Ponorogo juga tercatat dalam database yang sama. Bok Sodimedjo adalah perempuan berusia 17 tahun asal Desa Mlilir, Kabupaten Ponorogo, wilayah Madiun. Ia berangkat ke Suriname melalui Pelabuhan Batavia pada 15 September 1927 menggunakan kapal uap SS Madioen IV dan tiba di Paramaribo (Nationaal Archief, database Javaanse Contractarbeiders).

Sebagai tenaga kerja kontrak dengan kode AE988, Bok Sodimedjo ditempatkan di perkebunan Waterloo dan Hazard di wilayah Nickerie, Suriname. Masa kontraknya berlangsung selama lima tahun, dari 24 September 1927 hingga 24 September 1932. Ia menerima premie penghargaan pada 8 Agustus 1940, sebagai tanda penyelesaian kontrak dengan baik.

Berbeda dengan Wagimin yang tidak diketahui nasib akhirnya, Bok Sodimedjo tercatat tidak kembali ke tanah Jawa. Ia menetap di Suriname dan membangun keluarga di sana. Catatan arsip menunjukkan bahwa ia melahirkan lima orang anak: Ngadiran (1930), Ponijem (1932), Ngadim (1935), Moesirah (1937), dan Paikem (1944). Keluarga Bok Sodimedjo kemudian menggunakan nama Pawirodimedjo, salah satu nama keluarga Jawa yang banyak dipakai di Suriname.

Analisis Komparatif: Pola Diaspora Ponorogo

Perbandingan antara dua kasus ini mengungkapkan beberapa pola penting. Pertama, rentang waktu keberangkatan yang berbeda 1909 dan 1927 menunjukkan bahwa rekrutmen tenaga kerja dari Ponorogo bukan peristiwa tunggal, melainkan berlangsung selama periode panjang, setidaknya mencakup 18 tahun. Kedua, kedua individu berasal dari desa yang berbeda (Balong dan Mlilir), menunjukkan bahwa jaringan rekrutmen menjangkau berbagai wilayah di Afdeling Ponorogo. Ketiga, keterlibatan perempuan (Bok Sodimedjo) menunjukkan bahwa emigrasi tidak terbatas pada laki-laki saja.

Data dari Nationaal Archief menunjukkan bahwa dari total 32.956 orang yang dikirim dari Nederlands-Indie ke Suriname antara 1890–1939, komposisinya terdiri dari 19.088 laki-laki, 12.408 perempuan, dan 1.460 anak-anak (Historiek, 2023). Kehadiran perempuan dalam jumlah signifikan mencerminkan kebijakan kolonial untuk menciptakan populasi pekerja yang stabil dan bereproduksi di Suriname.

Kondisi Ekonomi dan Faktor Pendorong Emigrasi

Tekanan ekonomi di wilayah agraris seperti Ponorogo meningkat tajam sejak abad ke-19. Onghokham mencatat bahwa wilayah Madiun mengalami transformasi fundamental dalam struktur kepemilikan tanah, dari tanah pusaka (sikep) menjadi tanah komunal, yang berdampak pada melemahnya posisi ekonomi petani kecil. Sistem tanam paksa (cultuurstelsel), pajak tanah, dan kerja wajib menciptakan kemiskinan struktural (Onghokham, 1984: 45–67).

Dalam konteks inilah tawaran kontrak kerja ke Suriname menjadi “jalan keluar” yang menarik bagi penduduk desa yang kehilangan sumber penghidupan. Jan Breman menunjukkan bahwa sistem kuli kontrak bukan sekadar relasi kerja biasa, melainkan mekanisme pemindahan risiko ekonomi kolonial ke tubuh buruh pribumi (Breman, 1987: 24). Para wervers (perekrut) beroperasi hingga tingkat desa, menawarkan janji kehidupan yang lebih baik di “Tanah Sabrang”.

Warisan Diaspora: Komunitas Jawa–Suriname

Dari sekitar 33.000 orang Jawa yang dikirim ke Suriname, hanya sekitar 8.000 orang yang kembali ke Indonesia setelah masa kontrak berakhir. Sisanya sekitar 25.000 orang menetap secara permanen di Suriname (Suriname Anda, 2019). Bok Sodimedjo adalah salah satu dari mereka yang memilih menetap dan membangun keluarga di tanah baru.

Keturunan para pekerja kontrak ini kini membentuk komunitas Jawa–Suriname yang signifikan, yang masih mempertahankan bahasa, agama, dan budaya Jawa hingga hari ini. Rosemarijn Hoefte dan Hariette Mingoen mencatat bahwa komunitas ini berhasil membentuk ekspresi dan tradisi kultural mereka sendiri di Suriname, sambil tetap mempertahankan koneksi dengan tanah leluhur (Hoefte dan Mingoen, 2022).

Relevansi dengan Diaspora Ponorogo Kontemporer

Diaspora Ponorogo tidak terbatas pada emigrasi ke Suriname semata. Kajian Suharto (2016) tentang komunitas Ponorogo di Jember menunjukkan bahwa migrasi internal juga merupakan fenomena signifikan. Penelitiannya mengidentifikasi 25 grup Reog di wilayah Jember Selatan yang menunjukkan eksistensi subkultur Ponoragan, warga masyarakat yang mempertahankan identitas kultural Ponorogo di luar wilayah asalnya.

Baik diaspora ke Suriname maupun migrasi internal ke Jember menunjukkan pola yang sama: kesenian Reog Ponorogo berfungsi sebagai jangkar identitas (anchor of identity) bagi komunitas diaspora. Stuart Hall (1990) menyebut fenomena ini sebagai identitas kultural yang berorientasi pada asal-usul dan tradisi, berbeda dengan identitas hibrida yang lebih cair. Ponorogo yang kini dikenal sebagai Kota Reog dan memperoleh pengakuan UNESCO atas Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda pada Desember 2024, memiliki ikatan historis yang panjang dengan diasporanya di berbagai belahan dunia.

Penutup: Mengembalikan Suara kepada yang Terlupakan

Penemuan catatan arsip tentang Wagimin dan Bok Sodimedjo membuka babak baru dalam historiografi lokal Ponorogo. Kedua individu ini—seorang laki-laki berusia 24 tahun dari Desa Balong dan seorang perempuan berusia 17 tahun dari Desa Mlilir—menjadi bukti konkret bahwa wilayah agraris yang tampak tenang di pedalaman Jawa Timur ternyata terhubung dengan jaringan global mobilisasi tenaga kerja kolonial.

Sejarah tenaga kerja kolonial adalah sejarah yang sering tidak bersuara. Nama-nama buruh kontrak tercatat dalam daftar administratif, tetapi suara mereka jarang terdengar dalam narasi besar sejarah nasional. Melalui penelusuran arsip di Nationaal Archief, kita dapat mengembalikan identitas kepada mereka yang telah lama terlupakan: Wagimin dengan tahi lalat di tulang pipi kanannya, dan Bok Sodimedjo yang melahirkan lima anak di negeri asing serta menjadi cikal bakal keluarga Pawirodimedjo di Suriname.

Artikel ini merupakan langkah awal dalam upaya yang lebih besar untuk merekonstruksi sejarah diaspora Ponorogo. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi lebih banyak individu dari Afdeling Ponorogo dalam database buruh kontrak, serta penelitian oral history di komunitas Jawa–Suriname untuk menelusuri memori kolektif tentang asal-usul leluhur. Melalui upaya ini, kita tidak hanya merekonstruksi sejarah, tetapi juga menghormati pengorbanan para pendahulu yang telah menyeberangi samudra lebih dari satu abad yang lalu.


Daftar Pustaka

Breman, Jan. Koelies, Planters en Koloniale Politiek: Het Arbeidsregime op de Grootlandbouwondernemingen aan Sumatra's Oostkust in het Begin van de Twintigste Eeuw. Dordrecht: Foris Publications, 1987.

Hall, Stuart. “Cultural Identity and Diaspora.” Dalam Identity: Community, Culture, Difference, disunting oleh Jonathan Rutherford, 222–237. London: Lawrence and Wishart, 1990.

Historiek. “Een zesjarige contractarbeidster in Suriname.” 27 November 2023.
https://historiek.net/een-zesjarige-contractarbeidster-in-suriname/151573/

Hoefte, Rosemarijn. In Place of Slavery: A Social History of British Indian and Javanese Laborers in Suriname. Gainesville: University Press of Florida, 1998.

Hoefte, Rosemarijn, dan Hariette Mingoen. “Where Is Home? Changing Conceptions of the Homeland in the Surinamese-Javanese Diaspora.” Wacana 23, no. 3 (2022).

Nationaal Archief, Den Haag. “Javaanse contractarbeiders in Suriname 1890–1930.” Database Arsip Digital.
https://www.nationaalarchief.nl/onderzoeken/index/nt00346
Diakses Januari 2026.

Nationaal Archief Suriname. “Javaanse contractarbeiders in Suriname 1890–1930.”
https://nationaalarchief.sr/onderzoeken/alle-genealogie/genealogie-javanen-contractarbeiders/persons
Diakses Januari 2026.

Onghokham. Madiun dalam Kemelut Sejarah. Jakarta: Grafiti Pers, 1984.

Profil Desa Balong. “Sejarah Pemerintahan Desa Balong.” Sindopos, 3 Februari 2016.
https://www.sindopos.com/2016/02/profil-desa-kelurahan-desa-balong.html

Staatsblad van Nederlandsch-Indie Nomor 605 Tahun 1905 tentang Restrukturisasi Wilayah Karesidenan Madiun.

Suharto. “Membangun Identitas Budaya Reog dalam Transformasi Kehidupan Sosial-Budaya Orang-orang Jawa Ponorogo di Jember 1965–1990.” Tesis Magister, Universitas Gadjah Mada, 2016.

Suriname Anda. “Javaanse contractarbeiders.” 27 Oktober 2019.
https://suriname.nu/surinamezoeken/knowledge-base/javaanse-contractarbeiders/

Wikipedia. “Balong, Ponorogo.” 4 Juli 2025.
https://id.wikipedia.org/wiki/Balong,_Ponorogo


Tentang Penulis

Sri Widagdo Purwo Ardyasworo adalah mahasiswa Program Doktoral Ilmu Sejarah, Universitas Diponegoro, Semarang. Fokus penelitian disertasinya adalah transformasi figur Warok dan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Latar belakang akademisnya meliputi studi di Universitas Brawijaya dan Jiangxi Normal University, Tiongkok, dengan keahlian dalam historiografi kultural, studi warisan budaya takbenda, dan sejarah lokal Ponorogo.


Catatan tentang Sumber Primer

Data tentang Wagimin dan Bok Sodimedjo dalam artikel ini bersumber dari database Javaanse Contractarbeiders in Suriname yang dikelola oleh Nationaal Archief (Den Haag, Belanda) dan Nationaal Archief Suriname (Paramaribo, Suriname). Database ini dapat diakses secara publik melalui situs resmi kedua institusi tersebut.

Gambar arsip Wagimin dan narasi tentang Bok Sodimedjo pertama kali dipublikasikan oleh akun Ponorogo Tempo Dulu. Penulis telah melakukan verifikasi silang dengan database resmi Nationaal Archief untuk memastikan keakuratan data.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image