NEWS

Eksotika Budaya Religi Ramadhan di Bantarangin, 50 Dadak Merak Menggema dalam Reog Kolosal Ponorogo

Sinergi Kasepuhan Glagahwangi Notoprojo dan Pemkab Ponorogo Perkuat Spirit Nyawiji Seniman Reog Kulon Kali

Ponorogo - Wartakotakita.com - Suasana sakral dan penuh semangat budaya menyelimuti kawasan Monumen Bantarangin, Rabu malam (4/3/2026). Kasepuhan Glagahwangi Notoprojo bersama Plt. Bupati Ponorogo Lisdyarita bersinergi dengan para seniman dan seniwati Reog Ponorogo Kulon Kali menggelar pertunjukan kolosal bertema “Eksotika Budaya Religi Ramadhan.” Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, Kehadirannya memperkuat dukungan pemerintah daerah dalam menjaga dan mengembangkan seni budaya daerah sebagai aset kebanggaan bersama.

Pagelaran akbar ini menghadirkan 50 Dadak Merak, 50 penari Jatil, serta 30 Bujangganong, yang tampil memukau dalam satu harmoni gerak dan irama. Dentuman kendang, gemuruh sorak penonton, serta megahnya Dadak Merak yang menjulang tinggi menciptakan suasana yang tidak hanya artistik, tetapi juga religius dan sarat makna kebersamaan.

Yang menjadi momen istimewa malam itu, PLt Bupati Ponorogo Lisdyarita turut menari Jatil bersama para penari lainnya. Aksi tersebut langsung disambut tepuk tangan meriah penonton. Kehadirannya bukan sekadar simbolis, melainkan bentuk nyata dukungan dan kecintaan terhadap seni budaya daerah.

Monumen Bantarangin yang dikenal sebagai salah satu simbol sejarah Reyog menjadi panggung yang sangat tepat untuk pertunjukan ini. Cahaya lampu yang menerangi barisan Dadak Merak seakan menegaskan kebesaran budaya Ponorogo yang terus dijaga lintas generasi.

Ketua Kasepuhan Glagahwangi Notoprojo, Bapak Supri Honggolono, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pagelaran ini merupakan bentuk nyata kolaborasi antara kasepuhan, pemerintah daerah, serta keluarga besar Reyog. Ia menekankan bahwa tema Eksotika Budaya Religi menjadi refleksi nilai spiritual, keindahan seni, dan semangat gotong royong yang menjadi identitas masyarakat Ponorogo.

Dalam sambutannya, PLt Bupati Ponorogo Lisdyarita menegaskan pentingnya persatuan di kalangan pelaku seni Reyog. Ia mengajak seluruh seniman untuk tetap “nyawiji” atau menyatu dalam visi dan semangat pelestarian budaya.

“Semua seniman Reyog harus nyawiji. Dengan kebersamaan, kita bisa menjaga dan mengembangkan warisan budaya ini agar semakin mendunia,” tegasnya.

Sementara itu, sesepuh Glagahwangi, Kyai Suronoto, saat diwawancarai awak media menyampaikan rasa syukur atas pengakuan dunia terhadap Reyog. Ia menegaskan bahwa setelah Reyog diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO, maka nilai keindahan seni dan semangat gotong royong harus semakin dijaga.

Menurutnya, unsur guyup rukun, kebersamaan, serta kekuatan solidaritas antar pelaku seni menjadi bagian penting dalam penilaian UNESCO. Karena itu, ia berharap seluruh keluarga besar Reyog terus mempertahankan nilai luhur tersebut.

“Karena Reyog sudah diakui dunia, maka keindahan seni dan gotong royong harus terus dilestarikan. Itu bagian dari ruh budaya kita,” ujarnya.

Kyai Suronoto juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Daerah, Disbudparpora dan siapa saja semuanya yang telah berjuang bersama keluarga besar Reyog hingga akhirnya seni kebanggaan Ponorogo ini berhasil diakui sebagai warisan dunia takbenda.

Pagelaran malam itu bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan simbol kuatnya sinergi antara pemerintah, kasepuhan, dan para seniman dalam menjaga marwah budaya. Di tengah gemerlap Dadak Merak dan lincahnya gerak Jatil, semangat persatuan dan kebanggaan terhadap identitas lokal terasa begitu nyata.

Reyog bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan tentang kebersamaan, perjuangan, dan warisan nilai luhur yang harus terus hidup dari generasi ke generasi.

Penulis : Eka Harnawa
Editor : Tim Redaksi Wartakotakita.com


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image