NEWS

Hilirisasi Perikanan di Pacitan: Ketika Nelayan Bergeser Menjadi Pengolah

Ibu-ibu nelayan mengolah ikan menjadi produk siap konsumsi di Desa Sidoharjo, Pacitan.

Oleh: Retno Widowati
Mahasiswa Magister Manajemen
Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Pacitan - Wartakotakita.com - Di pesisir selatan Jawa Timur, warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Pacitan, tengah menjalani transformasi ekonomi yang patut dicermati. Mereka tidak lagi sekadar menjual hasil tangkapan dalam bentuk mentah kepada tengkulak, melainkan mulai mengolahnya menjadi produk bernilai tambah seperti nugget ikan, dimsum, dan martabak berbahan dasar ikan. Pergeseran ini bukan semata-mata diversifikasi usaha, tetapi juga mencerminkan upaya membangun ketahanan ekonomi rumah tangga melalui kolaborasi antara warga dan pengusaha lokal.

Kabupaten Pacitan memiliki garis pantai yang membentang di pesisir Samudera Hindia. Pemerintah daerah setempat bahkan meluncurkan branding wisata “70 Miles of Sea Paradise” pada Agustus 2025 untuk mempromosikan potensi bahari kawasan ini. Posisi geografis tersebut menjadikan sektor perikanan sebagai salah satu tumpuan utama ekonomi masyarakat setempat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Jawa Timur tahun 2023, produksi perikanan tangkap di wilayah ini mencapai ribuan ton per tahun dengan nilai ekonomi yang signifikan bagi perekonomian lokal. Namun, selama bertahun-tahun, nilai tambah dari hasil tangkapan tersebut lebih banyak dinikmati oleh rantai distribusi di luar desa.

Kondisi inilah yang mendorong sebagian warga Desa Sidoharjo mengambil langkah berbeda. Sejak tahun 2014, mereka mulai mengolah hasil tangkapan menjadi produk siap konsumsi. Heri Yanto, seorang pengusaha lokal dari CV RGB Samudra yang menjadi mitra warga dalam kegiatan ini, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut berangkat dari keinginan untuk memutar roda ekonomi di lingkungan sekitar.

“Kami melihat potensi pengolahan ikan ini tidak hanya sebagai investasi jangka panjang, tetapi juga sebagai upaya memberdayakan keahlian warga,” ujarnya saat ditemui di rumah produksi, Minggu (18/1/2026).

Dalam skema kerja sama tersebut, Heri berperan menyediakan modal awal, bahan baku, serta peralatan produksi. Sementara itu, warga yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga nelayan bertanggung jawab atas proses pengolahan. Hasil penjualan kemudian dibagi dengan proporsi 65 persen untuk pengusaha dan 35 persen untuk pengolah. Model ini menyerupai kemitraan bagi hasil yang lazim dijumpai dalam ekonomi pedesaan, namun diterapkan dalam konteks hilirisasi produk perikanan.

Arum Sekar (28), salah satu ibu rumah tangga yang terlibat dalam kegiatan tersebut, mengaku bahwa penghasilan tambahan dari mengolah ikan cukup membantu keuangan keluarga.

“Sebelumnya, kalau suami tidak melaut karena cuaca buruk, kami tidak punya pemasukan. Sekarang, setidaknya ada kegiatan yang menghasilkan,” tuturnya.

Dari perspektif ekonomi rumah tangga, diversifikasi sumber pendapatan semacam ini memang penting untuk mengurangi kerentanan. Rumah tangga nelayan tradisional umumnya menghadapi tingkat ketidakpastian pendapatan yang tinggi akibat faktor cuaca, musim ikan, serta fluktuasi harga di tingkat pengepul. Dengan memiliki sumber pendapatan alternatif dari kegiatan pengolahan, risiko tersebut dapat diminimalkan.

Meski demikian, keberlanjutan usaha ini sangat bergantung pada beberapa faktor. Pertama, ketersediaan bahan baku yang konsisten. Kedua, kemampuan menjangkau pasar yang lebih luas di luar lingkungan desa. Ketiga, pengelolaan keuangan usaha yang tertata, agar margin keuntungan dapat diakumulasi untuk pengembangan kapasitas produksi. Tanpa perhatian terhadap ketiga aspek tersebut, usaha pengolahan ikan berisiko mengalami stagnasi, bahkan terhenti ketika salah satu faktor mengalami gangguan.

Drh. M. Yunus Haryadi, MM., pejabat Dinas Perikanan Kabupaten Pacitan, menyatakan bahwa pemerintah daerah mendukung inisiatif warga semacam ini melalui program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) yang digagas oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.

“Hilirisasi perikanan merupakan salah satu prioritas pembangunan ekonomi pesisir. Kami berupaya memfasilitasi akses permodalan dan pelatihan bagi kelompok-kelompok pengolah,” jelasnya.

Apa yang terjadi di Desa Sidoharjo sejatinya bukan fenomena yang berdiri sendiri. Di berbagai wilayah pesisir Indonesia, upaya serupa telah berlangsung dengan tingkat keberhasilan yang beragam. Perbedaannya terletak pada sejauh mana kolaborasi antara warga, pengusaha lokal, dan pemerintah dapat terjalin secara sinergis dan berkelanjutan. Pengalaman Sidoharjo setidaknya menunjukkan bahwa ketika ketiga pihak tersebut bergerak bersama, peluang untuk mengubah hasil laut menjadi penggerak ekonomi lokal menjadi semakin terbuka.


Catatan Editor:
Artikel ini merupakan hasil observasi lapangan di Desa Sidoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada 18 Januari 2026.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image