Pawai Ogoh-Ogoh Klungkung 2026 Berlangsung Meriah dan Damai Sambut Nyepi Saka 1948
Tradisi Ngerupuk hidupkan suasana malam Tilem di jantung Kota Klungkung dengan puluhan ogoh-ogoh hasil karya pemuda banjar
Klungkung, Bali - Wartakotakita.com - Suasana malam menjelang Hari Raya Nyepi Saka 1948 di Kabupaten Klungkung, Bali, terasa begitu semarak. Rabu (18/03/2026) malam, ribuan warga tumpah ruah menyaksikan Pawai Ogoh-Ogoh yang digelar di kawasan Catus Pata, tepat di depan Kantor Bupati Klungkung.
Perayaan yang menjadi bagian dari rangkaian ritual Ngerupuk ini berlangsung meriah namun tetap kondusif dan damai. Sorak sorai masyarakat berpadu dengan iringan gamelan khas Bali, menciptakan suasana sakral sekaligus penuh kebersamaan.
Sebanyak 42 ogoh-ogoh ditampilkan dalam pawai tersebut. Jumlah ini berasal dari 14 Banjar Adat di wilayah Kecamatan Klungkung Kota, di mana masing-masing banjar mengarak tiga ogoh-ogoh hasil kreativitas para pemuda dan pemudi setempat. Setiap ogoh-ogoh memiliki bentuk unik dan sarat makna filosofis, menggambarkan sosok Bhuta Kala sebagai simbol energi negatif.
Salah satu warga Klungkung, I Wayan Sudarsana, S.H., menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan bagian penting dalam menyambut Nyepi.“Ngerupuk adalah rangkaian ritual pengerupukan yang dilakukan sehari sebelum Nyepi, tepatnya pada Tilem atau tanggal 30 dalam kalender Caka Bali,”ujarnya di sela-sela berlangsungnya pawai.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pengerupukan memiliki makna spiritual yang mendalam.
“Ritual ini bertujuan untuk membersihkan diri dan lingkungan dari energi negatif, sekaligus sebagai persiapan menyambut hari suci Nyepi. Biasanya ditutup dengan pembakaran ogoh-ogoh dan doa-doa untuk mengusir roh jahat,”jelas pria yang akrab disapa Wawang tersebut.
Pawai ogoh-ogoh bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan juga menjadi wadah ekspresi seni dan budaya generasi muda Bali. Kreativitas mereka terlihat dari detail patung, tata rias, hingga konsep cerita yang diangkat dalam setiap ogoh-ogoh.
Di sisi lain, kegiatan ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga banjar serta memperkuat nilai gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Bali.
Menjelang Hari Raya Nyepi, suasana yang semula ramai dan penuh gemuruh ini nantinya akan berganti menjadi hening total selama 24 jam, sebagai bentuk refleksi diri melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian.
Sebagai penutup, lebih dari 300 insan media yang tergabung dalam Media Group Globalindo turut menyampaikan ucapan selamat kepada umat Hindu yang merayakan.
“Selamat Hari Raya Nyepi Saka 1948, semoga membawa kedamaian, kesucian, dan keseimbangan bagi kita semua,”menjadi pesan yang disampaikan dalam momentum penuh makna tersebut.
Reporter : Iqbal
Penulis : Eka Harnawa
Editor : Tim Redaksi Wartakotakita.com
