NEWS

Soeharsikin: Perempuan Ponorogo di Balik Rumah Kos Peneleh

Foto Raden Ajeng Soeharsikin dan H.O.S. Tjokroaminoto sumber : FB Surabaya Historical

JAKARTA – Wartakotakita.com - Rumah kecil di Jalan Peneleh VII, Surabaya, dikenang sebagai kediaman H.O.S. Tjokroaminoto, tokoh pergerakan yang oleh pemerintah kolonial dijuluki “Raja Jawa Tanpa Mahkota.” Namun, rumah itu tidak berjalan karena Tjokroaminoto seorang diri.

Selama tiga belas tahun, sejak 1907 hingga wafatnya pada 1921, rumah tersebut dikelola dan dihidupi secara ekonomi oleh istrinya, Raden Ajeng Soeharsikin, perempuan kelahiran Ponorogo sekitar tahun 1885 yang riwayat hidupnya jauh lebih jarang ditulis dibandingkan riwayat suaminya.

Perempuan Priyayi dari Ponorogo

Soeharsikin adalah putri Raden Mas Mangunkusumo, seorang patih wakil bupati Ponorogo. Keterangan tersebut dicatat Amelz dalam biografi awal Tjokroaminoto yang terbit pada 1952 dan dikuatkan dalam penulisan resmi Anhar Gonggong yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1985.

Pada 1905, Soeharsikin menikah dengan Tjokroaminoto. Saat itu, Tjokroaminoto baru sekitar tiga tahun lulus dari OSVIA Magelang pada 1902 dan bekerja sebagai juru tulis patih.

Pernikahan tersebut berlangsung melalui perjodohan yang mengikuti tradisi lazim di kalangan priyayi pada masa itu, bukan hasil perkenalan pribadi. Bagi Mangunkusumo, pilihan tersebut tampak wajar: seorang menantu dengan garis keturunan bangsawan sekaligus pendidikan kolonial formal, sosok yang diharapkan meneruskan jenjang birokrasi pribumi hingga suatu hari menjadi pejabat setingkat bupati.

Harapan tersebut ternyata tidak bertahan lama.

Masih pada 1905, Tjokroaminoto mengundurkan diri dari jabatannya. Keputusan itu lahir dari penolakannya terhadap jalur birokrasi kolonial. Ia kemudian meninggalkan kediaman mertuanya ketika Soeharsikin tengah mengandung anak pertama mereka.

Perselisihan dengan Mangunkusumo pun tidak terhindarkan.

Namun, Soeharsikin memilih menyusul suaminya. Mula-mula mereka menuju Semarang, sebelum akhirnya keluarga tersebut menetap di Surabaya sejak 1907.

Pilihan Soeharsikin untuk mengikuti suaminya, di luar bingkai kesetiaan seorang istri semata, juga dapat dibaca sebagai penegasan sikap seorang perempuan priyayi di tengah struktur perjodohan yang pada awalnya tidak memberinya banyak ruang untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.

Rumah Peneleh dan Lahirnya Generasi Pergerakan

Lima tahun setelah menetap di Surabaya, tepatnya sejak 1912, Soeharsikin membuka rumah di Peneleh sebagai indekos bagi para pelajar.

Tahun 1912 merupakan periode penting. Pada tahun tersebut, Tjokroaminoto mulai memimpin transformasi Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam. Kesibukan Tjokroaminoto dalam organisasi membuat Soeharsikin mengambil peran penting dalam menopang ekonomi keluarga.

Kajian Eling Trimoyo, yang disusun berdasarkan biografi Amelz dan Anhar Gonggong, mencatat lebih dari dua puluh pelajar, sebagian besar berasal dari MULO dan HBS, pernah tinggal di rumah tersebut sepanjang dekade berikutnya.

Di antara mereka terdapat nama-nama yang kelak menempati posisi penting dalam sejarah pergerakan Indonesia, seperti Sukarno, Musso, Alimin, dan Abikusno Tjokrosujoso.

Sejarawan lain, termasuk J.D. Legge dalam biografi politik Sukarno, turut mencatat Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Semaun, dan Darsono sebagai bagian dari lingkaran yang sama pada periode tersebut.

Rumah Peneleh dengan demikian bukan sekadar tempat tinggal para pelajar.

Disiplin di Rumah yang Menjadi Ruang Pertukaran Gagasan

Soeharsikin dikenal menerapkan disiplin yang ketat kepada para penghuni rumahnya, termasuk mengatur jam belajar yang dimulai sejak dini hari.

Pekerjaan yang sekilas tampak sebagai urusan domestik tersebut, jika dicermati lebih jauh, sesungguhnya menjadi bagian dari ruang pembentukan karakter dan pertukaran gagasan bagi para pemuda yang tinggal di sana.

Kelak, setelah meninggalkan rumah tersebut, mereka berkembang ke dalam tiga arus ideologi besar dalam sejarah Indonesia abad ke-20: nasionalisme, Islam politik, dan komunisme.

Ketiga arus pemikiran tersebut pada kemudian hari bahkan saling berhadapan.

Rumah kos sederhana di Peneleh, karena itu, dapat dipandang sebagai salah satu ruang awal tempat imajinasi kebangsaan mulai dirumuskan secara konkret, jauh sebelum gagasan-gagasan tersebut mengkristal dalam organisasi massa maupun negara.

Di balik aktivitas tersebut terdapat peran Soeharsikin yang selama ini lebih sering ditempatkan sebagai pendamping Tjokroaminoto.

Padahal, keputusan membuka rumah sebagai indekos sekaligus sumber ekonomi keluarga menjadikan rumah tersebut mampu terus berfungsi sebagai ruang pertemuan para pemuda pada masa penting pergerakan nasional.

Wafatnya Soeharsikin

Masa itu tidak berlangsung selamanya.

Pada 1921, sembilan tahun setelah rumah Peneleh mulai menerima anak kos, Soeharsikin wafat setelah mengalami sakit selama beberapa hari. Ia kemudian dimakamkan di kompleks pemakaman Botoputih, Surabaya.

Soeharsikin meninggalkan lima anak, yaitu Siti Oetari, Oetarjo, Harsono, Siti Islamijah, dan Soejoed Ahmad, sebagaimana tercatat dalam biografi Amelz.

Kepergiannya digambarkan dalam catatan Anhar Gonggong yang memuat kesaksian Sukarno sebagai pukulan berat bagi Tjokroaminoto.

Untuk sementara waktu, Tjokroaminoto kehilangan semangat hidupnya. Rumah yang sebelumnya ramai oleh anak-anak kos dan aktivitas pergerakan mendadak terasa sepi.

Perempuan yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu penopang kehidupan rumah tersebut telah pergi.

Tiga belas tahun kemudian, pada 1934, Tjokroaminoto wafat di Yogyakarta. Ia tidak sempat menyaksikan kemerdekaan Indonesia yang kelak diperjuangkan oleh sejumlah pemuda yang pernah belajar dan tinggal di rumahnya.

Suara Soeharsikin yang Nyaris Hilang

Persoalan terbesar dalam menulis sejarah Soeharsikin adalah hampir tidak adanya suara langsung dari dirinya sendiri.

Apa yang kita ketahui tentangnya sebagian besar datang melalui ingatan orang lain, terutama Sukarno. Pada 1921, Sukarno memang belum menjadi menantunya. Namun, di kemudian hari, ia menikahi putri sulung Soeharsikin, Siti Oetari, dan mengenang Soeharsikin sebagai sosok yang berwatak lembut sekaligus teguh.

Keterbatasan sumber tersebut bukan alasan untuk berhenti menulis tentang Soeharsikin.

Sebaliknya, kondisi tersebut justru menjadi alasan untuk menulis sejarahnya dengan lebih hati-hati.

Kita perlu mengakui bahwa sebagian besar pengetahuan mengenai perempuan di sekitar tokoh-tokoh pergerakan nasional datang melalui perantaraan orang lain, bukan melalui suara mereka sendiri.

Di sinilah persoalan yang lebih besar muncul.

Ketika Historiografi Melupakan Ruang Domestik

Setiap kali membaca ulang biografi tokoh pergerakan seperti Tjokroaminoto, kita sesungguhnya sedang membaca satu jenis historiografi tertentu: historiografi yang menempatkan agensi sejarah terutama pada figur publik.

Mereka adalah orang-orang yang berpidato, memimpin kongres, mendirikan organisasi, menulis gagasan, atau menyusun manifesto.

Historiografi semacam itu tentu bukan tanpa dasar. Namun, ia memiliki satu titik buta yang jarang diakui secara terbuka.

Rumah tangga, dapur, pengelolaan ekonomi keluarga, serta pekerjaan domestik yang menopang panggung publik sering kali tidak dianggap sebagai medan sejarah yang layak diteliti dengan kesungguhan yang sama.

Selama sembilan tahun, dari 1912 hingga 1921, rumah yang dikelola Soeharsikin menjadi tempat tinggal sekaligus tempat tempaan bagi sejumlah nama yang kelak ikut menentukan arah ideologi bangsa.

Tanpa disiplin yang diterapkannya, tanpa keputusan membuka rumah sebagai sumber ekonomi keluarga, dan tanpa keberlangsungan rumah tersebut sebagai ruang pertemuan, ruang pertukaran gagasan yang mempertemukan para pemuda dari berbagai latar belakang mungkin tidak akan terbentuk dalam konteks yang sama.

Karena itu, membicarakan Soeharsikin bukan sekadar menambahkan satu nama perempuan ke dalam daftar tokoh sejarah.

Lebih jauh, ia mengajak kita mempertanyakan kembali bagaimana sejarah ditulis dan siapa yang dianggap memiliki peran dalam sejarah.

Persoalan Metodologis

Persoalan ini bukan sekadar soal keadilan naratif, meskipun hal tersebut penting.

Ini juga merupakan persoalan metodologis yang nyata.

Ketika sumber-sumber primer mengenai perempuan seperti Soeharsikin tidak pernah secara sengaja dicari dan dihimpun—mulai dari arsip catatan sipil kolonial, surat-surat pribadi apabila masih tersisa, hingga kesaksian keluarga dari generasi berikutnya yang belum sempat direkam—kekosongan tersebut akan terus diwariskan dari satu generasi penulisan sejarah ke generasi berikutnya.

Akibatnya, riwayat hidupnya akan terus bergantung pada kutipan berlapis yang berpotensi menggandakan kekeliruan kecil menjadi “fakta” yang dianggap mapan.

Karena itu, penelitian mengenai Soeharsikin masih terbuka luas.

Arsip keluarga, dokumen kolonial, surat pribadi, catatan perkawinan, dokumen kependudukan, hingga kesaksian keluarga merupakan bagian penting yang semestinya ditelusuri untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai kehidupannya.

Ponorogo dan Surabaya Berhak atas Kisah Soeharsikin

Menulis ulang riwayat Soeharsikin dengan kehati-hatian bukan berarti menggantikan tempat Tjokroaminoto dalam sejarah.

Juga bukan berarti mendramatisasi perannya melampaui apa yang dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan sumber.

Justru sebaliknya, penulisan mengenai Soeharsikin merupakan ajakan untuk memperlakukan riwayat hidup perempuan di sekitar tokoh-tokoh besar pergerakan dengan standar kehati-hatian sumber yang sama seperti yang kita tuntut terhadap tokoh utama.

Tidak lebih longgar hanya karena datanya sedikit.

Namun juga tidak dilebih-lebihkan sekadar untuk mengoreksi ketimpangan sejarah secara instan.

Soeharsikin adalah perempuan yang lahir di Ponorogo, kemudian menjalani sebagian besar kehidupan dewasanya di Surabaya, dan selama bertahun-tahun mengelola rumah yang menjadi salah satu ruang penting dalam perjalanan sejumlah pemuda yang kelak memiliki posisi besar dalam sejarah Indonesia.

Karena itu, Ponorogo sebagai kota kelahirannya dan Surabaya sebagai kota tempat ia membesarkan keluarga serta mengelola rumah Peneleh sama-sama berhak atas riwayat Soeharsikin yang ditulis selengkap dan sejujur mungkin.

Bukan sekadar sebagai catatan kaki dari kisah H.O.S. Tjokroaminoto.

Melainkan sebagai bab tersendiri dalam sejarah pergerakan Indonesia sebuah bab yang masih menunggu peneliti untuk menelusurinya lebih jauh hingga ke arsip.


Catatan Sumber

Naskah ini merujuk pada sejumlah sumber yang telah disebutkan dalam tulisan, antara lain:

  1. Amelz, biografi H.O.S. Tjokroaminoto yang diterbitkan pada 1952.
  2. Anhar Gonggong, karya mengenai H.O.S. Tjokroaminoto yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1985.
  3. Eling Trimoyo, kajian mengenai rumah Peneleh berdasarkan sumber biografis Amelz dan Anhar Gonggong.
  4. J.D. Legge, biografi politik Sukarno.

Catatan redaksional: sejumlah informasi mengenai Soeharsikin dalam sumber-sumber tersebut bersifat tidak langsung karena dokumentasi primer mengenai dirinya relatif terbatas. Karena itu, bagian interpretatif dalam artikel ini diposisikan sebagai analisis historiografis, bukan sebagai fakta biografis baru.

Penulis: Sri Widagdo Purwo Ardyasworo
Editor: Tim Redaksi Wartakotakita.com

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image