Ronggowarsito dan Tegalsari: Ketika Ponorogo Menjadi Tempat Lahirnya “Eling lan Waspada”
![]() |
| Foto Raden Ngabehi Ronggo Warsito : sumber Wikipedia |
Narasi dan Analisis Sejarah
Penulis: Sri Widagdo Purwo Ardyasworo
Kandidat Doktor Ilmu Sejarah, Universitas Diponegoro Semarang
Angin sore menyapu halaman Pesantren Gebang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo, ketika seorang santri remaja berdiri di tengah teman-temannya. Ia menunduk, dengan wajah yang tak lagi mampu menyembunyikan rasa malu.
Ia bukan santri yang dikenal taat. Ia lebih sering berjudi dan menyabung ayam daripada mengaji. Pagi itu, Kiai Kasan Besari, pengasuh pesantren, menegurnya di depan umum.
Bagi seorang keturunan bangsawan keraton, teguran semacam itu mungkin terasa lebih menyakitkan daripada cambukan sekalipun.
Santri tersebut bernama Bagus Burham.
Bertahun-tahun kemudian, dunia mengenalnya sebagai Raden Ngabehi Ronggowarsito, salah satu pujangga terbesar dalam sejarah Jawa dan sering disebut sebagai pujangga besar terakhir tradisi keraton Jawa.
Namanya kemudian melekat dengan salah satu bait paling terkenal dari Serat Kalatida, yang terus dikutip orang Jawa ketika zaman terasa kehilangan arah:
Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi,
milu edan nora tahan, yen tan milu anglakoni,
boya kaduman melik, kaliren wekasanipun,
ndilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali,
luwih begja kang eling lawan waspada.
Artinya:
Menyaksikan zaman gila, serba sulit dalam bertindak. Ikut gila tidak akan tahan, tetapi jika tidak ikut serta, tidak mendapat bagian dan akhirnya kelaparan. Namun sudah menjadi kehendak Allah: seberuntung-beruntungnya orang yang lalai, lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada.
“Eling lan waspada” — ingat dan waspada.
Dua kata itu tidak lahir dari ruang hampa. Ada benang merah yang menarik untuk ditelusuri, meski tidak sepenuhnya dapat dibuktikan secara linier, antara pengalaman seorang remaja di sebuah pesantren di Ponorogo dan kearifan yang kelak dituliskan oleh Ronggowarsito.
Di sinilah Tegalsari menjadi penting.
Anak Kampung Yasadipuran
Bagus Burham lahir dan tumbuh di kampung Yasadipuran, sebuah permukiman yang mengambil nama dari leluhurnya, Yasadipura I, pujangga besar yang berpindah ke wilayah tersebut ketika pusat pemerintahan Mataram bergeser dari Kartasura ke Surakarta pada 1744.
Bagus Burham tumbuh dalam keluarga pujangga.
Ayahnya, Mas Pajangswara, yang kelak bergelar Mas Ngabehi Ranggawarsita II, dan kakeknya, Yasadipura II, sama-sama berada dalam tradisi kepujanggaan keraton.
Dengan demikian, sejak kecil Bagus Burham telah berada di lingkungan yang sangat dekat dengan aksara, sastra, tradisi keraton, dan dunia kepujanggaan Jawa.
Ia seperti anak yang sejak lahir telah disiapkan untuk memasuki dunia kata-kata.
Namun jalan hidupnya tidak serta-merta berjalan lurus.
Mengenai tanggal kelahirannya, terdapat perbedaan dalam berbagai catatan. Sebagian sumber menyebut pertengahan Maret 1802. Perbedaan pencatatan tersebut menjadi pengingat bahwa bahkan kehidupan seorang tokoh sebesar Ronggowarsito pun tidak selalu diwariskan melalui sumber yang seragam.
Ketika Bagus Burham Dikirim ke Tegalsari
Pada usia sekitar dua belas tahun, Bagus Burham dikirim ke Pesantren Gebang Tinatar di Desa Tegalsari, Ponorogo.
Pesantren tersebut pada masanya merupakan salah satu pusat pendidikan Islam penting di Jawa dan diasuh oleh Kiai Kasan Besari, cucu pendiri pesantren, Kiai Ageng Muhammad Besari.
Tegalsari bukan pesantren biasa.
Pesantren ini dikenal memiliki jaringan keilmuan dan pengaruh yang luas. Dari lingkungan genealogis Tegalsari pula kemudian muncul tokoh-tokoh penting dalam sejarah Jawa, termasuk leluhur H.O.S. Tjokroaminoto.
Namun bagi Bagus Burham muda, latar belakang bangsawan dari Surakarta tidak serta-merta membuatnya menjadi santri teladan.
Dalam berbagai kisah yang berkembang, ia justru lebih tertarik pada perjudian dan sabung ayam daripada pelajaran agama.
Di titik inilah kisah Ronggowarsito mulai bersentuhan dengan tradisi tutur masyarakat Ponorogo.
Teguran Kiai Kasan Besari
Menurut versi kisah yang paling banyak beredar, Kiai Kasan Besari akhirnya menegur Bagus Burham secara terbuka.
Teguran tersebut menjadi titik balik.
Rasa malu yang dialami sang santri kemudian berubah menjadi dorongan untuk memperbaiki diri. Bagus Burham mulai belajar dengan lebih sungguh-sungguh dan menyerap berbagai ilmu dari lingkungan Tegalsari.
Dari sinilah muncul salah satu pertanyaan menarik dalam membaca kehidupan Ronggowarsito:
Sejauh mana pengalaman di Tegalsari ikut membentuk cara pandangnya terhadap manusia, kehidupan, dan zaman?
Tidak terdapat catatan dari Ronggowarsito sendiri yang secara eksplisit menyatakan bahwa pengalaman ditegur Kiai Kasan Besari kemudian melahirkan gagasan eling lan waspada.
Karena itu, hubungan tersebut tidak seharusnya diperlakukan sebagai fakta sebab-akibat yang sudah terbukti.
Namun sebagai pembacaan historis dan intelektual, hubungan tersebut menarik untuk dikaji.
Kisah Pelarian ke Madiun dan Tapa Kungkum
Di tengah masyarakat Ponorogo berkembang kisah yang jauh lebih dramatis.
Konon, Bagus Burham tidak sekadar ditegur kemudian berubah. Ia disebut melarikan diri dari Tegalsari.
Bersama abdi setianya, ia mengembara hingga ke Madiun. Setelah bekalnya habis, ia disebut bertahan hidup dengan berdagang barang-barang bekas.
Keluarganya kemudian panik dan mengutus orang untuk mencarinya.
Setelah melalui perjalanan panjang serta berbagai bujukan, Bagus Burham akhirnya bersedia kembali ke Tegalsari.
Namun, menurut kisah populer tersebut, Kiai Kasan Besari tidak langsung menyuruhnya mengikuti pengajian seperti santri lainnya.
Ia justru diperintahkan menjalani tapa kungkum, yaitu berendam di dalam air selama empat puluh hari, hingga dianggap siap secara batin menerima ilmu.
Kisah ini menarik, tetapi juga perlu ditempatkan secara kritis.
Apakah tapa kungkum tersebut benar-benar terjadi sebagai peristiwa historis?
Atau justru kisah tersebut merupakan bagian dari pola cerita tradisional Jawa mengenai seorang pemuda yang awalnya bengal, kemudian mengalami pengembaraan, menjalani laku spiritual, lalu tumbuh menjadi tokoh besar?
Pertanyaan itu penting karena sejarah tidak hanya berbicara mengenai apa yang terjadi, tetapi juga mengenai bagaimana suatu masyarakat mengingat dan menceritakan masa lalunya.
Motif pemuda yang mengalami perubahan melalui laku spiritual bukan sesuatu yang asing dalam tradisi cerita Jawa. Pola serupa dapat ditemukan dalam berbagai kisah tokoh masa lalu.
Karena itu, kisah pelarian ke Madiun dan tapa kungkum sebaiknya dibaca sebagai tradisi naratif yang perlu dibandingkan dengan sumber-sumber sejarah, bukan langsung diposisikan sebagai fakta tanpa kritik.
Justru di situlah nilai pentingnya.
Sebuah cerita yang hidup turun-temurun tetap memiliki arti, sekalipun detail historisnya belum tentu dapat dibuktikan seluruhnya.
Empat Tahun di Tegalsari dan Warisan yang Dibawanya
Bagus Burham disebut tinggal di Tegalsari selama sekitar empat tahun.
Ketika akhirnya kembali ke Surakarta, ia tidak hanya membawa pengetahuan keagamaan.
Ia juga membawa pengalaman intelektual dan spiritual yang kemudian berinteraksi dengan tradisi kepujanggaan keluarganya.
Di kemudian hari, nama Ronggowarsito melekat dengan sejumlah karya besar, antara lain Serat Kalatida, Serat Sabdo Jati, dan Jaka Lodang.
Karya-karya tersebut sering dibaca sebagai ramalan mengenai masa depan.
Namun pembacaan seperti itu perlu dilakukan secara hati-hati.
Karya Ronggowarsito dapat pula dipahami sebagai kritik terhadap keadaan sosial, politik, moral, dan kehidupan manusia, yang disampaikan melalui simbol, metafora, serta bahasa khas tradisi sastra Jawa.
Karena itu, istilah “ramalan Ronggowarsito” tidak selalu harus dipahami secara harfiah.
Yang lebih penting adalah bagaimana kritik terhadap zamannya tetap terasa relevan ketika dibaca oleh generasi yang hidup jauh sesudahnya.
Ronggowarsito wafat pada 24 Desember 1873.
Ia dikenang sebagai salah satu pujangga terbesar dalam sejarah Jawa dan sering disebut sebagai pujangga besar terakhir tradisi keraton Jawa.
Tegalsari dan Makna “Eling lan Waspada”
Lalu, apakah Tegalsari merupakan tempat lahirnya gagasan eling lan waspada?
Jawabannya harus hati-hati.
Tidak ada bukti langsung yang cukup untuk menyatakan bahwa Ronggowarsito menciptakan atau memperoleh ungkapan tersebut secara khusus dari pengalaman di Tegalsari.
Namun ada ruang untuk membaca pengalaman tersebut sebagai salah satu bagian dari proses pembentukan dirinya.
Seorang remaja bangsawan yang datang ke pesantren dengan membawa kebiasaan buruk, kemudian berhadapan dengan teguran keras seorang guru, mengalami rasa malu, dan akhirnya berubah menjadi seorang pembelajar — semuanya merupakan pengalaman yang sangat kuat dalam pembentukan karakter.
Dalam perspektif itu, rasa malu dapat dibaca sebagai bentuk awal dari “eling” — kesadaran terhadap diri sendiri.
Sementara waspada dapat dimaknai sebagai kesadaran untuk melihat akibat dari pilihan yang dibuat.
Sekali lagi, ini bukan kesimpulan faktual yang ditulis sendiri oleh Ronggowarsito.
Ini adalah interpretasi historis.
Dan justru karena merupakan interpretasi, ia membuka ruang untuk terus diperdebatkan.
Sejarah, Ingatan, dan Tegalsari
Ada godaan untuk mencari satu titik asal bagi kebesaran seorang tokoh.
Kita ingin mengatakan bahwa di sinilah seorang pujangga menemukan ilhamnya, di situlah seorang tokoh mendapatkan pencerahan, dan pada hari tertentu sebuah gagasan besar lahir.
Namun sejarah jarang sesederhana itu.
Ronggowarsito tidak lahir hanya dari Tegalsari.
Ia lahir dari pertemuan berbagai lingkungan: keluarga pujangga, tradisi keraton Surakarta, pendidikan pesantren, pengalaman sosial, pergulatan moral, serta perubahan politik dan kebudayaan Jawa pada zamannya.
Tegalsari adalah salah satu simpul penting dalam perjalanan tersebut.
Di sana seorang anak bangsawan bertemu dengan dunia pesantren.
Di sana pula ia berhadapan dengan disiplin, guru, dan konsekuensi dari perilakunya sendiri.
Apakah ia benar-benar menjalani tapa kungkum empat puluh hari?
Apakah ia benar-benar melarikan diri sampai Madiun?
Apakah teguran Kiai Kasan Besari menjadi sumber langsung pemikiran eling lan waspada?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak semuanya dapat dijawab dengan kepastian.
Tetapi justru di situlah sejarah menjadi menarik.
Sejarah bukan hanya usaha menemukan apa yang terjadi, melainkan juga memahami mengapa sebuah cerita terus hidup dalam ingatan masyarakat.
Pujangga yang Ditempa Jauh dari Keraton
Ronggowarsito memang lahir dari keluarga yang sangat dekat dengan pusat kekuasaan dan tradisi sastra Surakarta.
Tetapi salah satu bagian penting perjalanan intelektualnya justru berlangsung jauh dari lingkungan keraton.
Di Tegalsari, Ponorogo, ia berhadapan dengan dunia pesantren dan seorang guru yang berani menegur seorang keturunan bangsawan secara terbuka.
Pondokan tua yang hingga kini diyakini berkaitan dengan jejak keberadaannya menjadi pengingat bahwa kebesaran seorang tokoh tidak selalu ditempa di pusat kekuasaan.
Tegalsari bukan sekadar tempat dalam biografi Ronggowarsito.
Ia juga merupakan ruang pertemuan antara tradisi keraton dan tradisi pesantren, antara sastra dan spiritualitas, serta antara sejarah dan ingatan masyarakat.
Pada akhirnya, mungkin bukan soal apakah setiap detail kisah itu benar secara harfiah.
Yang lebih penting adalah makna yang diwariskan.
Seorang pemuda pernah diingatkan untuk melihat dirinya sendiri. Kelak, melalui karya-karyanya, ia mengingatkan masyarakat yang jauh lebih luas agar tidak kehilangan kesadaran ketika menghadapi zaman yang kacau.
Luwih begja kang eling lawan waspada.
Lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada.
Dan mungkin, di situlah salah satu alasan mengapa Tegalsari dan Ronggowarsito terus hidup dalam ingatan sejarah Ponorogo.
Sumber dan Catatan Kaki
[1] Kompas.com, “Mengenal Ranggawarsita, Pujangga Terakhir Tanah Jawa dan Karya-karyanya,” 11 Januari 2022.
[2] Wikipedia Bahasa Inggris, entri “Ranggawarsita”.
[3] Wikipedia Bahasa Inggris, entri “Yasadipura II”.
[4] “Nilai-Nilai Islam dalam Serat Wirid Hidayat Jati Karya Raden Ngabehi Ranggawarsita,” skripsi yang mengutip manuskrip susunan Padmawasita.
[5] Tempo.co, “KH Hasan Besari, Kakek HOS Tjokroaminoto Guru Ronggowarsito.”
[6] Jurnal Heuristik, Universitas Riau.
[7] “Sejarah Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo Pasca Kiai Hasan Besari,” tesis, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2022.
[8] Pesantren Luhur, “Raden Ngabehi Ronggowarsito III.”
[9] Sastra-Indonesia.com, kutipan dan narasi yang bersumber dari Babad Ponorogo.
[10] Berbagai situs daring yang memuat narasi populer mengenai kisah pelarian Bagus Burham ke Madiun dan tapa kungkum, antara lain illahfadhilatulummah.blogspot.com, pilgrim74.wordpress.com, dan kumpulanstudi-aspirasi.com. Sumber-sumber ini diposisikan sebagai sumber narasi populer, bukan sebagai bukti primer yang berdiri sendiri.
[11] Kompas.com dan NU Jepara Online, transkripsi Serat Kalatida, Pupuh Sinom.
[12] Eric Hobsbawm, kerangka konsep “invented tradition” (tradisi yang diciptakan), digunakan dalam tulisan ini sebagai lensa analisis mengenai bagaimana masyarakat membentuk dan mewariskan ingatan, bukan sebagai sumber data historis mengenai Ronggowarsito.
Catatan Editorial
Tulisan ini membedakan antara fakta historis, tradisi tutur, dan interpretasi penulis. Kisah mengenai kenakalan Bagus Burham, pelarian ke Madiun, perdagangan barang bekas, serta tapa kungkum ditempatkan sebagai narasi yang berkembang dalam tradisi populer karena tingkat pembuktiannya berbeda dengan informasi yang bersumber dari penelitian atau dokumen sejarah.
Dengan demikian, hubungan antara pengalaman Ronggowarsito di Tegalsari dan ungkapan “eling lan waspada” dalam tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai hubungan sebab-akibat yang telah terbukti secara dokumenter, melainkan sebagai pembacaan historis yang terbuka untuk diuji dan dipelajari.
Penulis: Sri Widagdo Purwo Ardyasworo
Editor: Tim Redaksi WartaKotaKita.com
